Setiap musim kemarau tiba, kabut asap pekat kembali menjadi momok bagi jutaan warga di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan, yang akrab disingkat karhutla, bukan sekadar kerusakan lingkungan, melainkan bencana kesehatan publik: sekolah terpaksa diliburkan, ratusan penerbangan dialihkan, dan rumah sakit dipadati pasien gangguan pernapasan. Di tengah pencarian solusi yang selama ini didominasi teknologi pemadaman konvensional, muncul inovasi yang tak terduga—tepung singkong.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga riset milik pemerintah, tengah menguji tepung singkong sebagai bahan pemadam kebakaran hutan. Ibarat seperti menaburkan garam ke atas kobaran minyak di dapur, partikel halus tepung diyakini mampu memadamkan api dengan cara memutus suplai oksigen—salah satu komponen yang tak bisa hilang dari segitiga api. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa potensi ini baru berada di tahap kajian teoritis dan membutuhkan pembuktian melalui uji coba lapangan berskala besar.
Mengapa Singkong Dianggap Layak Menjadi Pemadam
Singkong adalah komoditas yang melimpah di Indonesia. Menurut data Kementerian Pertanian, produksi nasional mencapai sekitar 20 juta ton per tahun, menjadikannya bahan baku yang murah dan mudah didapat di hampir seluruh daerah rawan karhutla. Faktor inilah yang membuat tepung singkong menarik sebagai alternatif pengganti air, yang kerap sulit dijangkau di lahan gambut yang kering dan membentang luas.
Secara mekanisme kerja, tepung singkong bekerja mirip dengan alat pemadam serbuk kimia kering (dry chemical powder) yang biasa digunakan di gedung-gedung. Partikel halusnya menutupi permukaan bahan yang terbakar, menghalangi masuknya oksigen, sekaligus menyerap panas sehingga suhu di sekitar titik api turun drastis. Keunggulan lain, tepung tidak menghantarkan listrik dan tidak meninggalkan residu yang merusak tanah seperti halnya bahan kimia pemadam sintetis.
"Potensi secara teoritis memang menjanjikan, tetapi efektivitas di lapangan hanya bisa dibuktikan lewat uji coba skala besar. Kondisi hutan sangat berbeda dari laboratorium," ujar salah satu peneliti yang terlibat dalam kajian tersebut.
Dari Teori ke Lapangan: Mengapa Uji Coba Skala Besar Menjadi Penentu
Kajian teoritis boleh saja menunjukkan hasil gemilang di atas kertas. Namun, memadamkan api di laboratorium tidak sama dengan menjinakkan kobaran di lahan gambut yang membentang ribuan hektare. Faktor angin, kelembapan udara, jenis vegetasi, hingga kedalaman tanah gambut sangat menentukan apakah serbuk tepung mampu menjangkau titik api di kedalaman tanah—fenomena yang dikenal sebagai api bawah tanah (ground fire) yang kerap menjadi biang kegagalan pemadaman konvensional.
Uji coba skala besar juga diperlukan untuk mengukur dosis efektif: berapa kilogram tepung yang dibutuhkan untuk memadamkan satu hektare lahan terbakar, berapa lama waktu yang dibutuhkan tim di lapangan, dan bagaimana cara penyebarannya—apakah lewat pesawat, drone, atau alat semprot darat. Data-data ini menjadi dasar perhitungan biaya sebelum teknologi dinyatakan layak diterapkan secara luas.
| Metode | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Air / water bombing | Terbukti efektif di lahan mineral | Biaya besar, sulit menjangkau titik api dalam gambut |
| Tepung singkong | Murah, melimpah, ramah lingkungan | Masih tahap uji coba, efektivitas lapangan belum terbukti |
| Pembakaran terkendali | Mencegah akumulasi bahan bakar | Risiko tinggi jika cuaca berubah |
Tantangan Logistik dan Jalan Menuju Implementasi
Meski menjanjikan, jalan menuju implementasi tidak mulus. Tantangan pertama adalah logistik: memobilisasi tepung dalam jumlah besar ke tengah hutan membutuhkan infrastruktur yang belum tentu tersedia. Tantangan kedua adalah ketahanan material—tepung organik rentan menggumpal saat terkena kelembapan, sehingga metode penyimpanan dan pengemasan harus dirancang khusus agar tetap efektif saat digunakan.
Di sisi lain, keberadaan industri tepung singkong lokal bisa menjadi ekosistem pendukung yang saling menguntungkan. Jika uji coba berhasil, permintaan tepung untuk pemadaman karhutla bisa menjadi pasar baru bagi petani dan pengusaha tepung di daerah, menciptakan nilai ekonomi dari komoditas yang selama ini hanya diolah menjadi bahan pangan dan pakan ternak.
Inovasi ini juga sejalan dengan tren deep tech di sektor lingkungan, di mana riset dasar yang panjang berujung pada teknologi terapan yang menjawab masalah nyata masyarakat. BRIN menegaskan bahwa langkah berikutnya adalah menyusun protokol uji coba lapangan yang melibatkan pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta masyarakat sekitar hutan, agar teknologi ini benar-benar lahir dari kebutuhan, bukan sekadar proyek laboratorium.
Jika uji coba skala besar membuahkan hasil, tepung singkong bisa menjadi salah satu senjata baru Indonesia dalam perang melawan asap. Meski begitu, publik tetap perlu menunggu data lapangan yang valid sebelum berharap terlalu tinggi—karena dalam dunia kebakaran hutan, klaim hanya bisa dipercaya setelah api benar-benar padam.
Comments (0)