Setiap musim kemarau, Indonesia kembali berhadapan dengan momok yang sama: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Catatan sejumlah lembaga menunjukkan lahan yang terbakar dalam satu musim bisa mencapai jutaan hektare—pada 2015 diperkirakan sekitar 2,6 juta hektare hangus, dan pada 2019 angkanya menyentuh sekitar 1,6 juta hektare. Asapnya bukan hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga menghentikan penerbangan, menutup sekolah, dan merugikan perekonomian hingga puluhan triliun rupiah. Di tengah persoalan sebesar itu, sebuah inovasi datang dari tempat yang tidak terduga: dapur.
Ibarat menyiram api di hamparan sabut kelapa kering, air yang dituang dari atas kerap hanya membasahi permukaan sebelum menguap terbawa panas. Hasilnya, api tampak padam sebentar, lalu menyala kembali. Para peneliti kemudian berpikir: bagaimana jika air dibuat lebih lengket agar bertahan lebih lama di atas bahan bakar? Jawabannya, menurut pengembangan yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), adalah tepung singkong.
Tepung Singkong: Bahan Dapur yang Kini Menjadi Andalan Pemadam
BRIN mengembangkan formulasi pemadaman berbasis tepung singkong yang dicampurkan ke dalam air. Tepung ini mengandung pati—senyawa alami yang membuat larutan menjadi lebih kental saat dicampur air. Kekentalan itulah kunci utamanya. Air yang semula cepat menetes dan menguap kini mampu menempel lebih lama pada material yang terbakar, seperti serasah daun, ranting, dan gambut. Dengan daya rekat yang lebih baik, efektivitas air dalam memadamkan api meningkat secara signifikan, sekaligus menekan jumlah air yang harus dikerahkan di lapangan.
"Kelebihan utama teknologi ini terletak pada kemampuannya memperlambat penguapan air, sehingga proses pemadaman menjadi lebih efisien dan risiko api menyala kembali dapat ditekan," demikian penjelasan tim peneliti dalam pengembangan formula tersebut.
Cara Kerja: Dari Pati Menjadi Perisai Air
Secara teknis, tepung singkong dicampur air dalam takaran tertentu hingga membentuk larutan yang lebih kental dari air biasa. Larutan ini kemudian disemprotkan ke titik api melalui peralatan pemadam konvensional—mulai dari pompa darat hingga pesawat water bombing. Saat larutan mengenai permukaan yang terbakar, partikel pati membentuk lapisan tipis seperti film yang melapisi bahan bakar. Lapisan inilah yang memotong pasokan oksigen ke sumber api sekaligus menahan kelembapan di permukaan lebih lama.
Ada alasan mengapa pendekatan ini dianggap cerdas. Di lahan gambut, api kerap menjalar di bawah permukaan melalui lapisan gambut kering yang sulit dijangkau air biasa. Larutan yang lebih kental memiliki daya jangkau lebih baik karena tidak mudah tercerai-berai saat disemprotkan. Dengan begitu, proses pembasahan hingga ke lapisan dalam menjadi lebih optimal—sebuah peningkatan efisiensi yang sulit dicapai dengan air murni.
Ramah Lingkungan dan Jauh Lebih Ekonomis
Nilai tambah lain dari teknologi ini adalah aspek ramah lingkungan. Berbeda dengan busa pemadam kimiawi yang dapat meninggalkan residu dan berpotensi mencemari tanah serta sumber air, tepung singkong mudah terurai secara alami (biodegradable). Indonesia, sebagai salah satu produsen singkong terbesar di dunia, memiliki pasokan bahan baku yang melimpah dengan harga terjangkau. Artinya, teknologi ini tidak hanya efektif, tetapi juga masuk akal secara ekonomi untuk diimplementasikan dalam skala luas.
| Aspek | Air Biasa | Campuran Air + Tepung Singkong |
| Daya rekat pada bahan bakar | Rendah, cepat menetes | Tinggi, membentuk lapisan |
| Laju penguapan | Cepat | Lambat |
| Risiko api menyala kembali | Tinggi | Dapat ditekan |
| Dampak lingkungan | Aman | Aman, terurai alami |
Tantangan dan Langkah Menuju Lapangan
Kendati menjanjikan, jalan menuju implementasi tidak selalu mulus. Para peneliti masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain standardisasi takaran campuran agar efektif di berbagai tipe lahan—gambut, mineral, maupun semak belukar. Logistik juga menjadi pekerjaan rumah: mendistribusikan tepung dalam jumlah besar ke lokasi kebakaran yang umumnya terpencil membutuhkan koordinasi yang matang antara pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat.
Langkah berikutnya adalah pengujian lapangan yang lebih luas serta sosialisasi kepada petani dan petugas pemadam. Jika teknologi ini berhasil diimplementasikan, bukan tidak mungkin tepung singkong menjadi bagian dari ekosistem penanggulangan bencana nasional. Inovasi ini menunjukkan bahwa jawaban atas masalah besar tidak selalu datang dari teknologi canggih dan mahal—kadang, solusi paling efisien justru tumbuh dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita.
Comments (0)