Teknologi

Sekolah Pengungsi Rohingya Terancam Tutup, Intimidasi Meningkat

Di tengah hiruk-pikuk kota Kuala Lumpur, anak-anak pengungsi Rohingya perlahan kehilangan tempat yang selama ini menjadi satu-satunya jendela harapan mereka: ruang kelas. Gelombang ujaran kebencian ya...

Sekolah Pengungsi Rohingya Terancam Tutup, Intimidasi Meningkat

Di tengah hiruk-pikuk kota Kuala Lumpur, anak-anak pengungsi Rohingya perlahan kehilangan tempat yang selama ini menjadi satu-satunya jendela harapan mereka: ruang kelas. Gelombang ujaran kebencian yang kian tak terbendung di ranah digital dan nyata telah memaksa setidaknya sembilan sekolah komunitas mereka di Malaysia menghentikan kegiatan belajar-mengajar. Bukan gedung yang runtuh, melainkan rasa aman yang tergerus.

Peristiwa ini bukan sekadar penutupan lembaga pendidikan informal. Ia adalah alarm darurat tentang kerentanan anak-anak tanpa kewarganegaraan di negeri yang menjadi transit sebelum penempatan ke negara ketiga. Mereka kini terkurung di hunian sementara, bukan hanya kehilangan pelajaran berhitung dan membaca, tetapi juga ruang sosial yang selama ini menjadi benteng psikologis dari trauma pengungsian.

Ketika Sekolah Berubah Menjadi Target

Sekolah-sekolah komunitas Rohingya umumnya dikelola secara swadaya oleh para relawan dan lembaga kemanusiaan. Kurikulumnya bersifat dasar: literasi, numerasi, bahasa Inggris, serta pengajaran nilai-nilai perdamaian. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, ancaman mulai berdatangan—baik melalui pesan langsung di media sosial maupun intimidasi verbal di sekitar lokasi belajar. Pengelola dan guru melaporkan peningkatan signifikan atas seruan agar komunitas Rohingya ‘diusir’ dari lingkungan mereka.

Data dari organisasi advokasi pengungsi mencatat, ujaran kebencian secara daring yang menyasar kelompok ini melonjak hingga lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir, dipicu oleh sentimen anti-imigran yang dipolitisasi. Narasi bahwa kehadiran pengungsi membebani ekonomi lokal dan mengancam budaya setempat terus digaungkan, tanpa bukti yang valid. Imbasnya, orang tua peserta didik memilih menahan anak-anak di rumah karena ketakutan akan serangan fisik atau pelecehan di perjalanan menuju sekolah.

Dampak Psikologis dan Masa Depan yang Terputus

Putusnya akses pendidikan bagi anak-anak pengungsi bukan hanya berarti kehilangan transfer pengetahuan. Dalam banyak penelitian, kegiatan belajar di lingkungan aman terbukti menjadi faktor protektif utama yang mencegah eskalasi gangguan stres pascatrauma pada anak-anak yang pernah menyaksikan kekerasan di tanah asal. Tanpa rutinitas sekolah, risiko depresi, kecemasan, dan keputusasaan meningkat tajam.

Di beberapa titik, para relawan mencoba menghidupkan kembali kegiatan belajar dengan metode kunjungan dari rumah ke rumah, namun sumber daya sangat terbatas. Satu per satu sekolah terpaksa menutup pintu, meninggalkan ribuan anak tanpa jenjang pendidikan yang jelas. Padahal, pendidikan dasar adalah hak fundamental yang tercantum dalam Konvensi Hak Anak, sekaligus benteng paling awal untuk mencegah eksploitasi dan pekerja anak di kemudian hari.

Ketidakpastian status pengungsi juga memperparah situasi. Malaysia bukan penandatangan Konvensi Pengungsi 1951, sehingga para pengungsi Rohingya tidak memiliki jalur legal untuk bekerja atau mengakses layanan publik formal, termasuk sekolah nasional. Sekolah komunitas menjadi satu-satunya jalan, dan kini jalan itu tertutup oleh tembok kebencian.

Membangun Kembali di Tengah Badai

Meskipun tekanan terus meningkat, sejumlah organisasi non-pemerintah dan individu tetap berupaya mempertahankan layanan pendidikan darurat. Mereka menggalang dana untuk menyewa tempat yang lebih tersembunyi, memperkuat sistem keamanan sukarelawan, dan membangun kampanye penyadaran publik untuk melawan disinformasi. Di tingkat akar rumput, dialog antarkomunitas mulai digagas; melibatkan tokoh masyarakat setempat untuk meredakan ketegangan dan membangun pemahaman bersama bahwa pengungsi bukanlah ancaman, melainkan manusia yang terjebak dalam situasi di luar kendali mereka.

Peran media juga menjadi krusial. Alih-alih memperkuat stigma dengan istilah yang mendiskreditkan, pemberitaan yang berimbang dan berbasis data dapat menjadi penawar dari narasi kebencian. Beberapa jurnalis warga dari kalangan pengungsi mulai dilatih untuk menyuarakan kisah mereka sendiri, menggunakan telepon pintar dan platform media sosial sebagai alat bercerita. Langkah kecil ini diharapkan mampu membangun empati publik yang lebih luas.

Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa kebijakan perlindungan akan diberikan secara resmi. Sekolah-sekolah yang tersisa beroperasi dalam bayang-bayang, dengan ketakutan bahwa esok bisa menjadi hari terakhir kegiatan. Bagi anak-anak yang hanya mengenal Malaysia sebagai rumah sementara, setiap lonceng tanda istirahat adalah kemenangan kecil melawan ketidakpastian—sebelum semuanya benar-benar lenyap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User