Dunia akademik Malaysia kembali diingatkan bahwa batas antara sejarah dan mitos bukan sekadar perdebatan di ruang kuliah. Kasus seorang profesor yang diberhentikan dari Universitas Islam Internasional Malaysia (International Islamic University Malaysia/IIUM) karena serangkaian klaim kontroversial tentang sejarah Melayu menjadi sorotan publik. Peristiwa ini penting bukan hanya karena menyangkut nasib satu orang, melainkan karena menyentuh pertanyaan besar: bagaimana sebuah bangsa menjaga integritas ilmiah ketika narasi identitas nasional berada di tengah-tengahnya. Di era ketika setiap pernyataan bisa menyebar dalam hitungan menit melalui platform media sosial, konsekuensi dari sebuah klaim tanpa bukti kini jauh lebih luas daripada ruang seminar mana pun.
IIUM sendiri bukan kampus sembarangan. Institusi yang berdiri sejak 1983 itu merupakan salah satu pusat pengembangan ilmu berbasis nilai Islam di Asia Tenggara, dengan ribuan mahasiswa dari berbagai negara. Dari ekosistem akademik yang ketat itulah muncul pernyataan-pernyataan yang dinilai melanggar kaidah penelitian, termasuk gagasan bahwa masyarakat Melayu kuno menguasai kemampuan terbang serta teknologi yang jauh melampaui zamannya. Pimpinan kampus akhirnya mengambil keputusan tegas: pemecatan.
Klaim Terbang dan Daya Tarik Narasi Kejayaan
Inti kontroversi terletak pada tesis yang nyaris terdengar seperti alur film fiksi ilmiah: bahwa orang Melayu kuno bukan hanya pelaut ulung, tetapi juga mampu melayang atau terbang berkat pengetahuan kuno yang konon hilang. Klaim semacam ini umumnya dikaitkan dengan pembacaan harfiah terhadap hikayat dan cerita rakyat, misalnya kisah tokoh yang melesat ke angkasa. Ibaratnya, ini seperti membaca deskripsi pesawat dalam sebuah novel, lalu menyimpulkan pesawat sungguh diproduksi pada abad tersebut. Masalahnya, dalam kajian sejarah, teks sastra tidak otomatis berfungsi sebagai laporan teknis. Hikayat memang dokumen berharga, tetapi ia adalah karya sastra yang sarat simbolisme, bukan spesifikasi alat.
'Sejarah harus dibedakan dari mitos. Kejayaan bangsa tidak perlu dibuktikan dengan klaim mustahil, karena bukti nyatanya sudah ada: bahasa, manuskrip, dan jejak maritim yang tersebar di kawasan,' ujar seorang pengamat sejarah yang menilai pemecatan itu sebagai koreksi standar akademik, bukan penindasan terhadap gagasan.
Yang menarik, kritik terhadap klaim tersebut justru datang dari kalangan yang paling peduli pada sejarah Melayu. Para peneliti menegaskan bahwa kejayaan maritim Nusantara sudah terdokumentasi kuat: jaringan pelayaran, perdagangan rempah, hingga tradisi persenjataan seperti keris. Menambahkan klaim terbang tanpa artefak pendukung justru dianggap melemahkan kredibilitas seluruh bidang kajian.
Ketika Metode Ilmiah dan Teknologi Jadi Hakim
Dalam implementasi metode kajian sejarah modern, ada alur kerja yang relatif baku: sumber primer, verifikasi silang, penanggalan, dan replikasi temuan. Klaim tentang kemampuan terbang gagal di hampir semua tahap tersebut karena tidak ada artefak, tidak ada catatan pihak ketiga, dan tidak ada rekonstruksi yang berhasil. Menariknya, teknologi justru memperkuat disiplin ini. Proyek digitalisasi manuskrip kini memungkinkan ribuan naskah kuno dipindai dan dianalisis, sementara teknik machine learning, cabang kecerdasan buatan yang memungkinkan komputer belajar dari data, dipakai untuk melacak silang kosakata dan memperkirakan tanggal penulisan di berbagai naskah. Algoritma tidak bisa memutuskan benar atau salah secara moral, tetapi ia sangat efisien menunjukkan apakah sebuah klaim punya jejak bukti yang konsisten atau tidak. Pendekatan ini sejalan dengan budaya deep tech masa kini, di mana setiap inovasi lahir dari penelitian yang dapat diuji ulang, bukan dari pernyataan yang menuntut dipercaya begitu saja.
Perbandingan sederhana antara klaim yang beredar dan penjelasan ilmiah yang lazim dirujuk peneliti dapat dilihat sebagai berikut.
| Klaim yang Beredar | Penjelasan Ilmiah Umum |
|---|---|
| Melayu kuno mampu terbang | Tidak ditemukan artefak alat terbang; kisah terbang dipahami sebagai simbolisme sastra |
| Teknologi supercanggih kuno yang hilang | Belum ada bukti material terverifikasi; temuan nyata justru berupa teknologi pelayaran dan metalurgi |
| Sejarah Melayu diremehkan akademisi | Penelitian maritim dan filologi Nusantara terus berkembang dengan publikasi internasional |
Dampak bagi Ekosistem Akademik Malaysia
Pemecatan ini memicu perdebatan ganda. Di satu sisi, sebagian pihak mengkhawatirkan efek jera terhadap kebebasan berpikir di kampus. Di sisi lain, banyak akademisi menilai keputusan itu sebagai penegakan standar: universitas adalah institusi yang hidup dari kredibilitas, dan klaim tanpa bukti merupakan risiko reputasi yang mahal harganya. Dalam bahasa pengelolaan organisasi, ini soal efisiensi kelembagaan; menjaga kepercayaan publik jauh lebih murah daripada memulihkannya setelah rusak. Kasus ini juga menjadi pengingat bagi ekosistem riset di kawasan bahwa disrupsi digital membuat setiap pernyataan akademik mudah dipotong, disebar, dan dikutip di luar konteksnya.
Bagi masyarakat luas, pelajarannya sederhana namun krusial: literasi sumber. Sebelum membagikan klaim sensasional, periksa siapa yang berbicara, data apa yang dipakai, dan apakah temuannya dapat diperiksa ulang. Inovasi dan kebanggaan terhadap warisan leluhur tidak perlu saling bertentangan; keduanya justru bertemu di titik yang sama, yaitu kejujuran terhadap bukti. Sejarah Melayu kaya akan capaian nyata yang layak dirayakan, dan justru karena itu, ia tidak membutuhkan sayap fiktif untuk terbang di mata dunia.
Comments (0)