Bisnis

Pasar Saham Asia Anjlok, Lonjakan Kasus Corona Picu Kecemasan Investor

Layar raksasa di lobi sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020) pagi, memantulkan warna yang paling dibenci para investor: merah. Seorang wan

Pasar Saham Asia Anjlok, Lonjakan Kasus Corona Picu Kecemasan Investor

Layar raksasa di lobi sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020) pagi, memantulkan warna yang paling dibenci para investor: merah. Seorang wanita berjalan cepat melewatinya, sesaat melirik angka indeks Nikkei 225 yang terus tertekan sejak pembukaan. Pemandangan serupa terjadi di Hong Kong, Seoul, hingga Shanghai. Pasar saham Asia melorot pada hari itu setelah China melaporkan lonjakan kasus wabah virus corona, yang kini telah menelan korban jiwa lebih banyak dibanding epidemi SARS pada 2002–2003.

Kasus Harian Pecahkan Rekor, Korban Jiwa Lewati SARS

Komisi Kesehatan Nasional China mengumumkan 97 kematian baru dalam satu hari — rekor tertinggi sejak wabah menyebar — sehingga total korban tewas di daratan utama mencapai 908 orang. Angka itu melampaui total korban jiwa SARS di seluruh dunia yang tercatat 774 orang. Kasus terkonfirmasi di daratan China juga menembus 40.000-an, dengan provinsi Hubei, episentrum yang meliputi kota terkunci Wuhan, masih menjadi penyumbang terbesar.

Data baru itu muncul hanya beberapa jam sebelum bursa dibuka. Investor langsung menimbang ulang prospek ekonomi Asia yang selama ini sangat bergantung pada mesin pertumbuhan China, dari turisme hingga rantai pasok manufaktur.

Bursa Asia Berubah Merah

Indeks utama kawasan ditutup di zona merah tanpa terkecuali. Dari data perdagangan Senin, pelemahan terbesar tercatat di Hong Kong, sementara Tokyo dan Shanghai terkoreksi lebih moderat.

IndeksPenutupanPerubahan
Nikkei 225 (Tokyo)sekitar 23.687-0,6%
Shanghai Compositesekitar 2.890-0,7%
Hang Seng (Hong Kong)sekitar 27.241-1,7%
Kospi (Seoul)sekitar 2.184-0,5%

Senyum kembali ke pasar Asia yang sempat rebound pekan lalu kini mengeras. Sejak wabah pertama kali menjadi sorotan global pada akhir Januari, kapitalisasi pasar global diperkirakan telah tergerus ratusan miliar dolar AS.

"Sejak pagi kami melihat aliran keluar dari saham-saham siklis. Investor tidak panik, tetapi mereka memilih menunggu. Tidak ada yang mau mengambil risiko baru ketika angka wabah masih naik setiap hari," ujar seorang analis pasar modal di Tokyo, Senin (10/2/2020).

Tekanan Menjalar ke Lantai Pabrik

Dampak wabah tidak berhenti di papan perdagangan. Rantai pasok regional mulai terganggu karena banyak pabrik di China menunda beroperasi kembali pasca-libur Tahun Baru Imlek yang diperpanjang pemerintah. Di Korea Selatan, Samsung Electronics menunda sementara pengoperasian sebagian fasilitas ponsel di Gumi setelah seorang pekerjanya terkonfirmasi positif. Sementara itu, raksasa perakitan gawai Foxconn belum mendapat izin melanjutkan produksi di sejumlah pabriknya di China — jaringan yang memasok, antara lain, Apple.

  • Penundaan pembukaan pabrik memperlambat pasokan komponen elektronik global.
  • Merosotnya aktivitas konsumsi di China menekan sektor pariwisata dan ritel Asia.
  • Pembatasan perjalanan menaikkan risiko operasional dan biaya logistik perusahaan.

Bank Sentral China Disorot, Investor Buru Aset Aman

Fokus pasar tertuju pada Bank Sentral Rakyat China (PBOC) yang terus menyuntikkan likuiditas ke sistem perbankan dan menurunkan suku bunga operasi terbuka untuk meredam guncangan. Sejumlah ekonom memperkirakan stimulus tambahan akan segera menyusul. Di tengah kecemasan itu, dana berbondong-bondong pindah ke aset yang dianggap aman: harga emas naik ke level tertinggi dalam sepekan, sementara harga minyak turun dengan kontrak acuan Brent bergerak di bawah 54 dolar AS per barel. Bursa Wall Street juga ditutup melemah pada Jumat, mencatatkan pekan rugi bagi indeks acuan AS.

"Kami mengharapkan PBOC terus melonggarkan kebijakan. Pengalaman SARS menunjukkan pasar cenderung pulih, tetapi jalur pemulihannya tidak pernah nyaman," kata seorang manajer dana di Hong Kong.

Skenario ke Depan: Pulih Cepat atau Berkepanjangan?

Para analis membagi wabah ini menjadi dua skenario. Jika penyebaran terkendali pada kuartal pertama, dampaknya terhadap pertumbuhan dinilai sementara dan ekonomi bisa memantul kembali cepat. Namun jika wabah berlarut, konsumsi domestik China, manufaktur regional, hingga perdagangan global akan tertekan lebih dalam — sebagaimana epidemi SARS yang diperkirakan menelan biaya sekitar 40 miliar dolar AS bagi ekonomi dunia pada 2003. Tiga hal yang akan dipantau investor pekan ini: angka kasus harian, langkah stimulus Beijing, dan potensi peringatan pendapatan dari perusahaan-perusahaan yang bergantung pada China.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User