Teknologi

Google Padukan Material 3 Expressive dan Liquid Glass di iPhone

Pengguna iPhone yang membuka aplikasi buatan Google dalam beberapa pekan terakhir mungkin merasakan ada yang berbeda. Tombol, kartu, dan ikon kini terlihat sedikit lebih "cair" — ada kilau tembus pa...

Google Padukan Material 3 Expressive dan Liquid Glass di iPhone

Pengguna iPhone yang membuka aplikasi buatan Google dalam beberapa pekan terakhir mungkin merasakan ada yang berbeda. Tombol, kartu, dan ikon kini terlihat sedikit lebih "cair" — ada kilau tembus pandang yang mengingatkan pada antarmuka bawaan iOS. Perubahan ini bukan sekadar selera sesaat, melainkan implementasi nyata dari dua bahasa desain sekaligus: Material 3 Expressive dari Google dan Liquid Glass milik Apple. Bagi pengguna sehari-hari, dampaknya langsung terasa: aplikasi terasa lebih menyatu dengan sistem, informasi lebih mudah dipindai, dan navigasi terasa lebih ringan.

Mengapa perpaduan dua bahasa desain ini penting?

Selama bertahun-tahun, ekosistem aplikasi di iOS seolah terbagi dua dunia. Di satu sisi ada aplikasi Apple yang mengikuti Human Interface Guidelines, di sisi lain aplikasi Android yang membawa gaya Material Design khas Google. Ketika Apple memperkenalkan Liquid Glass pada sistem operasi iOS 26 (dirilis tahun 2025), sebuah lapisan antarmuka transparan yang bereaksi terhadap cahaya dan gerakan, celah itu kian terasa. Ibarat seperti dua arsitek yang membangun gedung bersebelahan dengan gaya berbeda: satu kaca bening, satu beton bertekstur.

Kini Google menutup celah tersebut. Sejak Liquid Glass genap berusia satu tahun, aplikasi Google di platform iOS mulai memadukan material tembus pandang itu dengan Material 3 Expressive — evolusi terbaru dari Material Design yang menekankan tipografi berani, bentuk geometris ekspresif, serta animasi penuh makna. Hasilnya adalah tampilan yang tetap "Google" namun tidak asing di dalam iPhone.

Apa yang sebenarnya berubah di layar?

Material 3 Expressive adalah pengembangan signifikan dari generasi Material Design sebelumnya. Bahasa desain ini mengedepankan komponen berbentuk pil, sudut membulat agresif, palet warna dinamis yang mengikuti konten, serta transisi gerak yang halus. Dalam praktiknya, algoritma penentu warna otomatis mengambil nuansa dari gambar atau tema yang sedang dibuka, lalu menerapkannya ke seluruh elemen antarmuka.

Liquid Glass sendiri adalah material digital yang meniru sifat kaca asli: memantulkan cahaya di tepi, membiarkan konten di belakangnya sedikit terlihat, dan berubah ketika perangkat dimiringkan. Ketika dua pendekatan ini digabungkan, muncul efek yang bisa diibaratkan seperti batu permata dipoles — permukaannya tetap tegas dan terbaca, namun punya kedalaman visual.

Secara konkret, perubahan yang terlihat mencakup beberapa hal. Elemen navigasi seperti dock dan panel bawah kini memakai latar tembus pandang sehingga wallpaper atau konten di belakangnya sedikit menembus ke depan. Tombol aksi utama memakai bentuk pil dengan bayangan lembut khas Material 3 Expressive. Transisi antarmuka memakai animasi pantul dan skala yang membuat sentuhan terasa lebih responsif dibanding gerakan geser datar generasi sebelumnya.

Desain sebagai bahasa bisnis

Desain bukan hanya soal tampilan cantik; desain adalah cara produk berbicara kepada pengguna.

Bagi Google, langkah ini punya makna strategis. Perusahaan tersebut bukan hanya pengembang sistem operasi Android, tetapi juga pemilik rangkaian aplikasi produktivitas yang dipakai jutaan orang di iPhone — mulai dari Gmail, Google Maps, Chrome, hingga Google Photos. Ketika aplikasi-aplikasi ini tampil selaras dengan estetika iOS, hambatan psikologis pengguna untuk beralih platform semakin mengecil.

Di pasar ponsel pintar global, pangsa iOS dan Android terus berfluktuasi menurut wilayah. Di Amerika Serikat, misalnya, iOS memegang porsi mayoritas pengguna, sementara di Indonesia dan sebagian besar Asia Tenggara, Android mendominasi. Dengan menghadirkan pengalaman visual konsisten di kedua kubu, Google memperkuat posisinya sebagai platform layanan lintas ekosistem, bukan sekadar pembuat aplikasi perangkat tertentu.

Tantangan implementasi di balik layar

Memadukan dua sistem desain bukan pekerjaan mudah. Setiap komponen harus diterjemahkan ulang: bagaimana warna Material yang dinamis tetap terbaca di atas latar transparan? Bagaimana animasi Expressive tidak bertabrakan dengan gerakan sistem iOS? Pengembang perlu menulis kode yang membaca kondisi perangkat, mengukur kontras warna secara otomatis, lalu menyesuaikan tingkat keburaman latar agar teks tetap jelas di segala kondisi pencahayaan.

Ini adalah contoh nyata bagaimana machine learning (pembelajaran mesin) dan algoritma penyesuaian visual masuk ke dalam pengembangan antarmuka. Sistem perlu memprediksi apakah latar belakang sedang terang atau gelap, seberapa ramai konten di belakang, dan seberapa besar elemen yang ditampilkan, lalu mengambil keputusan visual dalam hitungan milidetik.

Ke mana arah inovasi antarmuka selanjutnya?

Kombinasi ini menandai fase baru dalam pengembangan perangkat lunak konsumen: era di mana identitas merek tidak lagi mengorbankan kenyamanan pengguna di platform lain. Ibarat seperti pakaian yang mengikuti bentuk tubuh — desain kini menyesuaikan konteks perangkat, bukan memaksa perangkat menyesuaikan desain.

Ke depan, pola serupa kemungkinan akan diadopsi pengembang lain. Ketika raksasa teknologi sekelas Google saja memilih jalur adaptasi, standar pengalaman pengguna lintas platform bisa bergerak ke arah yang lebih seragam. Bagi pengguna awam, kabar baiknya sederhana: aplikasi akan terasa lebih nyaman, lebih cepat dipahami, dan lebih indah — tanpa perlu peduli apakah ponsel di tangan mereka bertenaga Android atau iOS.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User