Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Papua Barat Daya, menyatakan kesiapan penuh infrastruktur dan fasilitas operasional bandara untuk melayani penerbangan internasional reguler. Langkah ini merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah dalam memperkuat konektivitas udara di Kawasan Timur Indonesia sekaligus mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata.
Kepala UPBU DEO Sorong, Asep Sukarjo, menegaskan bahwa penyiapan layanan penerbangan mancanegara ini terus dimatangkan melalui integrasi lintas sektor. Pihaknya berkoordinasi secara intensif dengan instansi terkait yang terhimpun dalam skema Customs, Immigration, and Quarantine (CIQ), yakni Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina Kesehatan guna memastikan alur pelayanan penumpang luar negeri sesuai dengan standar internasional.
Secara teknis, Bandara DEO Sorong saat ini memiliki fasilitas fisik yang memadai. Bandara ini dilengkapi dengan landasan pacu (runway) sepanjang 2.500 meter dan lebar 45 meter, yang mampu didarati oleh pesawat udara jenis berbadan sedang (*narrow-body*) seperti Boeing 737-800/900ER maupun Airbus A320. Selain itu, terminal penumpang seluas 13.700 meter persegi telah didesain untuk mengakomodasi pemisahan alur keberangkatan serta kedatangan domestik dan internasional.
Analisis Kesiapan Infrastruktur dan Prosedur Operasional
Rencana pembukaan rute penerbangan internasional secara reguler di Bandara DEO Sorong diproyeksikan bakal memangkas waktu tempuh serta biaya perjalanan bagi wisatawan mancanegara yang hendak berkunjung ke Papua Barat Daya. Selama ini, arus kunjungan turis asing menuju destinasi unggulan Raja Ampat harus melalui beberapa titik transit seperti Jakarta, Bali, atau Makassar sebelum melanjutkan penerbangan ke Sorong.
Guna merealisasikan kesiapan operasional tersebut, UPBU DEO Sorong menetapkan tahapan penyiapan yang sistematis sebagai berikut:
- Tahap Pemetaan dan Penataan Alur Terminal: Mengalokasikan area khusus untuk pemeriksaan imigrasi, kepabeanan, serta karantina di dalam gedung terminal guna menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang.
- Tahap Verifikasi Kelayakan Keselamatan: Melakukan evaluasi teknis terhadap tingkat kekerasan landasan (Pavement Classification Number/PCN) serta keandalan sistem navigasi penerbangan bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
- Tahap Penjajakan Kerja Sama Komersial: Melakukan koordinasi intensif dengan maskapai penerbangan nasional dan asing terkait pembukaan rute komersial potensial dari negara tetangga.
Berikut adalah perbandingan data spesifikasi operasional Bandara DEO Sorong saat ini dibandingkan dengan target pengembangan layanan penerbangan internasional:
| Parameter Operasional | Layanan Domestik (Saat Ini) | Target Layanan Internasional |
|---|---|---|
| Panjang Landasan Pacu | 2.500 Meter | 2.500 Meter (Optimalisasi PCN) |
| Kapasitas Terminal Peak-Hour | 780 Penumpang / Jam | 1.200 Penumpang / Jam |
| Fasilitas Layanan CIQ | Terbatas / Non-Reguler | Permanen 24/7 |
| Target Potensi Rute | Jakarta, Makassar, Ambon, Jayapura | Singapura, Kuala Lumpur, Darwin |
Dampak Ekonomi dan Penguatan Akses Pariwisata Raja Ampat
Pembukaan rute internasional di Sorong dinilai akan menjadi akselerator utama perkembangan ekonomi Kawasan Timur Indonesia. "Konektivitas penerbangan internasional secara langsung menuju Sorong merupakan kunci utama untuk memangkas rantai logistik pariwisata serta meningkatkan daya saing investasi di Papua Barat Daya," ungkap pengamat ekonomi transportasi udara nasional.
"Kesiapan Bandara DEO Sorong melayani rute penerbangan internasional tidak hanya sekadar pemenuhan aspek teknis, melainkan sebuah lompatan strategis dalam menjadikan Papua Barat Daya sebagai hub penerbangan dan pintu gerbang pariwisata bahari kelas dunia."
Dengan dukungan penuh dari Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Daerah Papua Barat Daya, operasionalisasi penerbangan internasional reguler di Bandara DEO Sorong diharapkan dapat terealisasi dalam waktu dekat. Keberadaan rute ini diyakini tidak hanya menaikkan jumlah kunjungan wisatawan ke Raja Ampat, tetapi juga memberikan multiplier effect bagi UMKM dan sektor jasa lokal di Sorong.
Comments (0)