Di lereng-lereng Pegunungan Alpen Prancis yang mulai menguning menjelang musim gugur, satu momen penting bagi ekosistem pegunungan tinggi tengah berlangsung: persiapan marmot untuk terjun ke dalam liangnya dan memulai hibernasi panjang. Namun sebelum tidur musim dingin itu tiba, ada jeda waktu yang penuh bahaya—musim perburuan resmi.
Sejak awal September setiap tahun, para pemburu diperbolehkan menembak hewan pengerat besar yang termasuk keluarga tupai dan marmut tanah ini. Kini, kampanye hak-hak hewan di Prancis bersiap menggelar aksi demonstrasi dan petisi daring untuk mendesak pemerintah mencabut izin tersebut.
“Dibunuh demi Kesenangan”
Para aktivis menyebut praktik perburuan ini tidak memiliki dasar ekologis maupun ekonomi yang kuat. Mereka menegaskan bahwa marmot Alpen (Marmota marmota) justru sedang bergulat dengan tekanan lingkungan yang semakin berat akibat krisis iklim.
“Marmot dibunuh demi kesenangan semata, bukan untuk kebutuhan apa pun,” ujar salah satu juru bicara kalangan pejuang hewan yang menggagas petisi tersebut.
Bagi kelompok kampanye, ironinya nyata: sementara ilmuwan terus memperingatkan penurunan populasi satwa liar pegunungan, negara justru membuka musim tembak-menyembur terhadap spesies yang perannya dalam ekosistem rumput alpin sangat besar—mulai dari pengaerasi tanah lewat liang galiannya hingga menjadi mangsa utama elang emas dan rubah.
Krisis Iklim Menekan Populasi
Kekhawatiran utama kampanye ini adalah dampak pemanasan global terhadap habitat marmot. Hewan ini hidup di padang rumput sub-alpin pada ketinggian antara 1.200 hingga 3.000 meter, dan menghabiskan lebih dari separuh tahun hidupnya dalam hibernasi yang bergantung pada lapisan salju sebagai isolator termal.
Penipisan tutupan salju dan meningkatnya frekuensi gelombang panas di Pegunungan Alpen diyakini mengganggu pola hibernasi serta ketersediaan cadangan lemak hewan ini. Gangguan tersebut berdampak langsung pada tingkat kelangsungan hidup anak marmot yang baru lahir.
| Faktor | Dampak terhadap Marmot Alpen |
|---|---|
| Panas global | Gangguan hibernasi dan cadangan energi |
| Menipisnya salju | Liang sarang kehilangan isolasi termal |
| Musim buru September | Hewan diburu tepat sebelum masa kritis hibernasi |
Waktu Perburuan yang Diperdebatkan
Titik rawan lain yang dikritisi adalah penentuan kalender perburuan itu sendiri. Musim terbuka dimulai pada September, hanya beberapa pekan sebelum marmot masuk ke dalam liang untuk hibernasi selama kurang lebih enam bulan.
Pada periode ini, marmot berada dalam fase membangun cadangan lemak maksimal agar bertahan hingga musim semi. Para kritikus menilai, menembak hewan pada momen fisiologis paling rentan ini sama saja dengan menggandakan tekanan terhadap populasi yang sudah tertekan perubahan iklim.
- Aksi demonstrasi digelar di sejumlah kota dengan dukungan petisi daring.
- Tuntutan utama: pencabutan klasifikasi marmot sebagai buruan.
- Kampanye menyoroti ketidakselarasan kebijakan perburuan dengan komitmen keanekaragaman hayati.
Sela Dua Pihak
Di sisi lain, kalangan pemburu tradisional kerap berargumen bahwa jumlah marmot di lereng-lereng alpin masih terbilang besar dan populasi mereka dinilai stabil secara keseluruhan. Mereka juga mengklaim liang marmot dapat merusak padang penggembalaan serta infrastruktur wisata musim dingin.
Namun para ahli konservasi yang mendukung kampanye menegaskan bahwa klaim stabilitas tidak boleh menjadi pembenaran. “Ketika sebuah spesies menghadapi tekanan iklim yang belum sepenuhnya dipahami, prinsip kehati-hatian seharusnya menang atas logika perburuan rekreasi,” ujar seorang pengamat satwa liar yang mendukung petisi tersebut.
Jalan Berliku Menuju Regulasi Baru
Secara historis, gerakan serupa pernah membuahkan hasil di Prancis. Tekanan publik sebelumnya berhasil memicu pembatasan terhadap sejumlah praktik perburuan yang dianggap usang. Karena itu, koalisi aktivis percaya momentum kali ini juga dapat mengubah kebijakan.
Petisi daring akan terus dikumpulkan sepanjang musim panas menuju September, saat musim perburuan resmi dibuka. Jika pemerintah tetap diam, aksi protes yang lebih besar direncanakan berlanjut hingga akhir tahun.
Bagi para pendukung larangan, pertaruhan moralnya jelas: apakah sebuah tradisi perbururan musiman masih bisa dibenarkan, ketika spesies yang diburunya justru sedang kehilangan pijakan akibat dunia yang terus menghangat? Jawabannya akan menentukan nasib ribuan marmot di lereng-lereng Alpen Prancis pada musim gugur ini.
[SOCIAL_TWEET]: Aktivis hewan di Prancis menggelar protes dan petisi untuk melarang perburuan marmot Alpen yang dibuka tiap September. "Marmot dibunuh demi kesenangan," kata mereka. Krisis iklim pun mengancam populasinya. #LindungiMarmot #AlpenPrancis[SOCIAL_TG]: 🐿️ PRANCIS | Kampanye hak hewan menuntut larangan perburuan marmot Alpen yang dibuka setiap September. Aktivis: "Marmot dibunuh demi kesenangan." Krisis iklim diduga menekan populasi hewan ini. Detail lengkap di Terdepan.id.
Comments (0)