JAKARTA — Tiga tahun telah berlalu sejak gelombang kekerasan paling berdarah dalam sejarah konflik Israel-Palestina modern meletus pada 7 Oktober. Bagi masyarakat Yahudi di dalam dan luar Israel, satu kesimpulan kini mengemuka sebagai jalan keluar yang paling masuk akal: realisme.
Sehari setelah serangan tersebut, sebuah refleksi ditulis dalam keadaan penuh rasa sakit, ketakutan, dan guncangan. Rasa sakit lahir dari tindakan kejam yang tak terlukiskan oleh kelompok teroris Hamas, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang — pria, wanita, Lansia, anak-anak, hingga bayi. Adegan penyiksaan, pemerkosaan, penodaan, penculikan, hingga pemenggalan bahkan disebarkan sendiri oleh para pelaku melalui media sosial.
Hari-H: Ketika Dunia Menahan Napas
Ketakutan pada saat itu bersifat global. Konflik diyakini telah menembus batas kebencian teologis yang menghalangi segala kemungkinan solusi politik. Sementara itu, guncangan datang dari kalkulasi kekuatan yang bertabrakan, melibatkan aktor besar seperti Vladimir Putin, para Ayatollah Iran, dan Donald Trump.
- 7 Oktober: Serangan Hamas menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel dan menyebabkan ratusan lainnya diculik.
- 8 Oktober: Refleksi pertama dipublikasikan di media massa Meksiko dengan seruan agar menahan diri.
- Awal perang Gaza: Israel melancarkan operasi militer skala besar sebagai balasan.
- Tiga tahun kemudian: Ribuan warga Palestina sipil tewas, dan kemungkinan solusi politik kian menipis.
“Jawaban Israel tidak boleh berlaku hukum rimba. Hanya strategi yang tegas, tetapi juga pengekangan bertanggung jawab, didukung PBB dan negara-negara utama Barat, yang dapat meredam getaran apokaliptik yang mengelilingi kita.”
Saat menyerukan moderasi itu, penulis menyadari bahwa kebencian antisemit sudah tersebar luas di sebagian jaringan media sosial yang terus berkembang. Namun seruan itu tetap disampaikan, dengan kesadaran penuh atas risikonya.
Tiga Tahun Kemudian: Rasa Sakit Kian Dalam
Kini, rasa sakit terasa jauh lebih mendalam. Rasa sakit pada 7 Oktober yang mengingatkan pada pogrom yang disaksikan sang kakek di Rusia Tsar, kini bertambah dengan penderitaan akibat kematian ribuan warga Palestina non-kombatan dalam perang Gaza berikutnya — pria, wanita, Lansia, anak-anak, hingga bayi.
- Rasa sakit berlipat ganda: penderitaan kedua belah pihak kini dirasakan bersamaan.
- Ketakutan meningkat: perang dinilai memperdalam kebencian hingga level yang mungkin mustahil diperbaiki untuk dua atau tiga generasi ke depan.
- Guncangan kian nyata: iklim eskalasi membuat setiap jalan keluar politik tampak nyaris mustahil.
Dalam kondisi tersebut, penulis berpendapat bahwa emosi semata tak lagi cukup untuk membuka jalan damai. Yang dibutuhkan adalah kejujuran strategis — mengakui batas kekuatan, menerima kenyataan pahit di lapangan, dan menolak ilusi bahwa kemenangan mutlak masih mungkin diraih.
Realisme Sebagai Satu-satunya Jalan
Realisme, dalam konteks ini, bukan berarti menyerah atau melupakan penderitaan. Realisme berarti menempatkan kepentingan kelangsungan hidup di atas narasi kemenangan absolut. Bagi komunitas Yahudi di seluruh dunia, pendekatan ini menjadi penawar terhadap ekspetasi yang tak lagi realistis terhadap konflik berkepanjangan.
Tiga tahun setelah masa paling kelam, pesan yang tersisa tetap sama namun dengan bobot yang lebih berat: kekerasan tak akan melahirkan keamanan, dan hanya kesepakatan politis yang jujur — meski pahit — yang dapat menghentikan lingkaran balas dendam. Di tengah dunia yang terus terbelah, keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya mungkin adalah langkah pertama menuju perdamaian.
Comments (0)