Teknologi

Studi Ungkap Alasan Anak Lebih Cenderung Merawat Orang Tua

Terpendam.id — Fenomena seorang anak yang tampak jauh lebih telaten merawat orang tuanya dibandingkan saudara-saudaranya kerap dianggap sebagai cerminan ka

Studi Ungkap Alasan Anak Lebih Cenderung Merawat Orang Tua

Terpendam.id — Fenomena seorang anak yang tampak jauh lebih telaten merawat orang tuanya dibandingkan saudara-saudaranya kerap dianggap sebagai cerminan kasih sayang yang lebih besar. Namun, sebuah studi sosiologi jangka panjang justru menawarkan pembacaan yang berbeda: intensitas merawat sering kali berkaitan dengan dinamika lama yang belum selesai di dalam keluarga, bukan sekadar besarnya rasa cinta seorang anak terhadap orang tuanya.

Pertanyaan mengapa sebagian anak dewasa mengambil porsi terbesar dalam mengurus ayah atau ibu yang menua menjadi salah satu isu yang paling sering muncul di ruang konsultasi keluarga. Ketika orang tua memasuki usia lanjut, posisi setiap anak di dalam struktur keluarga ikut bergeser. Satu anak bisa menelepon setiap hari, menemani orang tuanya ke dokter, hingga mengatur seluruh kebutuhan harian, sementara saudara-saudaranya memilih hadir sesekali atau nyaris tidak muncul sama sekali dalam kehidupan sehari-hari orang tua mereka. Ketimpangan peran ini kemudian memicu perdebatan soal keadilan, keikhlasan, hingga luka lama yang kembali terbuka.

Data dan Metodologi Studi

Proyek riset bernama Within-Family Differences Study, yang dipimpin oleh sosiolog Jill Suitor dari Universitas Purdue, menjadi salah satu rujukan penting dalam membaca persoalan ini. Penelitian tersebut mengamati sejumlah besar keluarga dalam rentang waktu yang panjang untuk memahami bagaimana orang tua memandang dan memperlakukan anak-anak mereka secara berbeda.

Temuan utamanya cukup mengejutkan. Para ibu, menurut data yang dihimpun, membedakan anak-anak mereka dengan sangat jelas. Mereka cenderung memilih anak yang dianggap memiliki nilai dan pandangan hidup serupa. Fakta ini menunjukkan bahwa kedewasaan seorang anak tidak otomatis menghapus preferensi orang tua yang sudah terbentuk sejak lama. Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi siapa yang merasa paling bertanggung jawab, dan siapa yang merasa tidak perlu terlalu terlibat.

Riset lain yang menjadi rujukan dalam kajian serupa menyoroti bahwa intensitas pengasuhan tidak semata-mata ditentukan oleh kedekatan emosional. Faktor jarak geografis, ketersediaan waktu luang, status pekerjaan, dan kondisi ekonomi turut menentukan seberapa besar keterlibatan seorang anak. Namun, faktor-faktor struktural itu bukan satu-satunya penentu. Konflik lama yang belum terselesaikan, perasaan kurang diakui, serta keinginan untuk membuktikan diri sebagai anak yang "paling berbakti" juga menjadi pendorong yang tidak bisa diabaikan.

Sejumlah psikolog menilai hal ini sebagai bentuk pencarian validasi yang tertunda. "Banyak anak dewasa merawat orang tuanya bukan karena hubungan itu hangat, melainkan karena mereka masih mengejar pengakuan yang belum pernah mereka dapatkan sejak kecil," ujar seorang psikolog keluarga yang meneliti pola pengasuhan lintas generasi. Pendapat ini sejalan dengan temuan bahwa anak yang sejak lama merasa kurang diperhatikan justru kerap mengambil beban perawatan terbesar, dengan harapan akhirnya diakui sebagai anak yang berjasa.

Beban Tak Seimbang dan Dampak Sosial

Ketimpangan peran ini membawa konsekuensi nyata. Anak yang menanggung beban perawatan paling besar berisiko mengalami kelelahan fisik dan emosional, kehilangan waktu produktif, bahkan harus mengorbankan karier. Sementara itu, saudara-saudara yang absen sering kali tidak merasakan tekanan yang sama, sehingga muncul ketegangan baru di antara mereka.

Dalam banyak kasus, perdebatan soal siapa yang paling banyak berkorban justru memperdalam jarak antar saudara. Warisan, biaya pengobatan, dan keputusan medis menjadi pemicu konflik yang memperlihatkan bahwa persoalan ini jauh lebih rumit daripada sekadar soal cinta kepada orang tua.

Para peneliti merekomendasikan adanya pembicaraan terbuka di dalam keluarga sebelum orang tua memasuki fase lanjut usia. Pembagian tugas yang jelas, komunikasi yang jujur soal kapasitas masing-masing anak, serta kesediaan mengakui luka lama dapat membantu mencegah penumpukan beban pada satu orang saja. Dengan begitu, perawatan orang tua tidak lagi menjadi ajang pembuktian diri, melainkan tanggung jawab bersama yang dijalankan secara lebih sehat dan manusiawi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User