Bisnis

Singapura — Kualitas Udara Seluruh Wilayah Memburuk Akibat Kabut Asap

Langit cerah yang biasanya menyelimuti lanskap megah Singapura kini berganti dengan kepulan asap tipis berwarna abu-abu pekat. Suasana kota megapolitan ter

Singapura — Kualitas Udara Seluruh Wilayah Memburuk Akibat Kabut Asap

Langit cerah yang biasanya menyelimuti lanskap megah Singapura kini berganti dengan kepulan asap tipis berwarna abu-abu pekat. Suasana kota megapolitan tersebut mendadak berubah muram ketika bau sangit sisa pembakaran menyengat hidung para pejalan kaki. Untuk pertama kalinya sejak September 2019, seluruh wilayah Singapura—mulai dari kawasan Pusat, Utara, Selatan, Timur, hingga Barat—resmi mencatatkan level kualitas udara yang masuk dalam kategori tidak sehat secara serentak.

Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) melaporkan bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (Pollutant Standards Index atau PSI) selama 24 jam menembus ambang batas aman di atas angka 100. Fenomena ini menandai kembali berulangnya krisis kabut asap lintas batas yang sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran masyarakat akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan publik.

Lonjakan Indeks Pencemaran di Seluruh Wilayah

Berdasarkan pantauan stasiun pemantau kualitas udara NEA, kenaikan tingkat pencemaran terjadi secara bertahap sejak pagi hari sebelum akhirnya melonjak signifikan pada sore hari. Kondisi langit yang diselimuti kabut tebal hingga menyamarkan gedung-gedung pencakar langit ikonik di kawasan Marina Bay menjadi bukti nyata memburuknya polusi udara yang melanda Negeri Singa tersebut.

Peningkatan konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat menjadi penyumbang terbesar menurunnya mutu udara. Berikut adalah ringkasan perbandingan indeks PSI di berbagai wilayah Singapura saat lonjakan terjadi:

Wilayah Rata-rata PSI (24 Jam) Status Kualitas Udara
Pusat (Central) 108 Tidak Sehat
Barat (West) 115 Tidak Sehat
Timur (East) 105 Tidak Sehat
Utara (North) 110 Tidak Sehat
Selatan (South) 107 Tidak Sehat

Dampak Karhutla Regional dan Faktor Angin

Pihak berwenang mengidentifikasi bahwa perburukan kualitas udara ini dipicu oleh meningkatnya titik panas (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa titik di kawasan Asia Tenggara. Perubahan pola angin monsun yang berembus dari arah barat daya membawa asap pembakaran melintasi lautan hingga sampai ke daratan Singapura.

Seorang warga lokal yang tinggal di kawasan Jurong, Darren Tan (38), mengungkapkan rasa terkejutnya saat menyadari jarak pandang yang menurun drastis saat ia beraktivitas di luar rumah.

"Saya keluar rumah untuk berolahraga pagi dan langsung merasakan tenggorokan gatal. Bau asapnya sangat kuat, mirip kayu terbakar. Kami sudah bertahun-tahun tidak merasakan kabut asap separah ini di semua wilayah sekaligus," ujar Darren saat ditemui di kawasan bisnis perumahan.

Peringatan Kesehatan dan Imbauan Masyarakat

Menanggapi situasi darurat lingkungan ini, Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) bersama NEA menerbitkan panduan keselamatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan pernapasan kronis diimbau untuk membatasi aktivitas fisik yang berat di luar ruangan.

Pemerintah juga telah menyiagakan persediaan masker N95 di berbagai pusat distribusi sebagai langkah antisipasi jika indeks PSI terus meningkat memasuki kategori sangat tidak sehat di atas angka 200. Sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan telah diinstruksikan untuk memindahkan seluruh kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler ke dalam ruangan yang dilengkapi pemurni udara (air purifier).

Para pakar kesehatan lingkungan mengingatkan bahwa paparan partikel halus PM2.5 dalam jangka pendek dapat memicu iritasi mata, batuk, dan sesak napas. Ketidakpastian arah angin dan intensitas titik panas di kawasan regional membuat warga diminta tetap waspada dan memantau pembaruan berkala dari otoritas terkait. Rekor buruk yang kembali terulang ini menjadi pengingat pentingnya kerja sama lintas negara dalam menanggulangi ancaman kebakaran lahan secara permanen.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User