Teknologi

Saudi Kecewa pada Barat di Tengah Serangan Houthi yang Meningkat

Ketika milisi Houthi kembali meluncurkan rudal dan drone ke arah kota-kota Saudi, pertanyaan besar yang muncul bukan hanya soal pertahanan udara, melainkan tentang siapa yang benar-benar berdiri di be...

Saudi Kecewa pada Barat di Tengah Serangan Houthi yang Meningkat

Ketika milisi Houthi kembali meluncurkan rudal dan drone ke arah kota-kota Saudi, pertanyaan besar yang muncul bukan hanya soal pertahanan udara, melainkan tentang siapa yang benar-benar berdiri di belakang Riyadh. Dalam beberapa pekan terakhir, Arab Saudi dilaporkan mulai kecewa terhadap negara-negara Barat karena dukungan yang dinilai terbatas dalam menghadapi eskalasi serangan kelompok milisi Houthi. Isu ini penting bagi dunia luas karena harga minyak, keamanan jalur pelayaran di Laut Merah, dan stabilitas kawasan Teluk semuanya bertumpu pada satu hal sederhana: apakah aliansi lama Saudi dengan Barat masih kokoh atau mulai retak?

Ibarat seperti tetangga yang selalu berjanji membantu menjaga rumah, tetapi ketika maling datang berkali-kali, bantuan yang tiba justru berupa imbauan, bukan tindakan. Arab Saudi, menurut sumber yang memahami dinamika kebijakan luar negeri Riyadh, merasa mendapat dukungan yang tidak sepadan dengan ancaman yang dihadapi. Serangan Houthi (kelompok milisi yang menguasai sebagian wilayah Yaman) tidak lagi bersifat sesekali. Pelabuhan, fasilitas minyak, bandara, hingga kawasan sipil menjadi sasaran yang memaksa Riyadh mengeluarkan biaya pertahanan besar.

Ancaman Houthi yang Terus Bertambah

Selama bertahun-tahun, milisi Houthi mengembangkan kemampuan militer mereka secara signifikan. Jika dulu mereka hanya beroperasi di daratan Yaman, kini mereka memiliki rudal balistik, drone jarak jauh, dan sistem yang mampu menembus pertahanan udara modern. Teknologi ini bukan muncul dari ruang hampa. Ada dugaan kuat bahwa pasokan komponen dan pengetahuan teknis mengalir dari luar Yaman, menjadikan konflik ini bukan sekadar perang sipil, melainkan medan uji bagi persaingan kepentingan regional.

Bagi Arab Saudi, ini adalah gangguan nyata terhadap ekonomi. Fasilitas minyak Aramco pernah menjadi target serangan besar yang membuat produksi minyak dunia terguncang. Setiap kali serangan terjadi, harga minyak melonjak dan pasar global ikut gelisah. Inilah alasan mengapa Riyadh menuntut lebih dari sekadar pernyataan keprihatinan dari sekutu-sekutunya di Barat.

Kekecewaan pada Dukungan yang Dianggap Setengah Hati

Sumber menyebutkan bahwa Arab Saudi menilai negara-negara Barat membatasi bantuan dalam bentuk dukungan intelijen, persenjataan, dan operasi pertahanan bersama. Ada kesan bahwa Barat lebih sibuk menjaga citra politik domestik mereka daripada memperkuat keamanan mitra lama di Teluk. Padahal, hubungan Riyadh dengan Washington dan beberapa ibu kota Eropa telah berlangsung puluhan tahun, mencakup kerja sama energi, keamanan, dan teknologi.

"Ketika ancaman meningkat, ekspektasi terhadap sekutu juga meningkat. Jika yang datang hanya pernyataan, maka kepercayaan akan tergerus," kata seorang analis pertahanan kawasan, menggambarkan suasana yang berkembang di kalangan pejabat Saudi.

Kekecewaan ini bukan tanpa dasar. Arab Saudi melihat bahwa setiap serangan Houthi selalu dibalas dengan pernyataan yang menyerukan de-eskalasi, bukan tindakan tegas. Di sisi lain, Riyadh juga menyadari bahwa Barat memiliki kepentingan di Laut Merah, jalur perdagangan yang menghubungkan Eropa dan Asia. Sekitar 12 persen perdagangan global melewati jalur ini, dan gangguan di sana berdampak langsung pada rantai pasok dunia.

Implikasi bagi Ekosistem Keamanan dan Ekonomi Global

Jika kepercayaan Saudi terhadap Barat terus menurun, dampaknya tidak berhenti di Riyadh. Arab Saudi dapat mempercepat diversifikasi mitra pertahanan dan teknologi, termasuk menjalin kerja sama dengan kekuatan lain seperti Tiongkok dan Rusia. Langkah ini sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, misalnya dalam pengembangan teknologi drone dan sistem pertahanan udara buatan lokal. Riyadh juga menggelontorkan dana besar untuk riset dan pengembangan pertahanan, sejalan dengan visi ekonomi mereka yang ingin mengurangi ketergantungan pada minyak.

Bagi pembaca awam, ini relevan karena ketegangan di Teluk bisa memicu kenaikan harga bahan bakar, biaya pengiriman barang, dan inflasi global. Ketika jalur pelayaran terganggu, biaya logistik naik, dan barang-barang di toko menjadi lebih mahal. Inilah rantai yang menghubungkan rudal di Yaman dengan tagihan belanja rumah tangga di berbagai negara.

Pertanyaannya kini: apakah Barat akan mengubah pendekatan dan memberikan dukungan yang lebih nyata, atau apakah Arab Saudi akan benar-benar mencari kawan baru? Yang jelas, dalam politik internasional, kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal. Sekali retak, butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Dan di tengah gempuran teknologi militer yang semakin canggih, keretakan aliansi bisa menjadi celah berbahaya bagi stabilitas kawasan maupun dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User