Teknologi

Satgas Hilirisasi Bikin RI Kuasai 41 Persen Nikel Olahan Dunia

JAKARTA — Kebijakan hilirisasi nikel yang dijalankan pemerintah secara konsisten selama satu dekade terakhir menuai hasil signifikan. Ekonom Center of Refo

Satgas Hilirisasi Bikin RI Kuasai 41 Persen Nikel Olahan Dunia

JAKARTA — Kebijakan hilirisasi nikel yang dijalankan pemerintah secara konsisten selama satu dekade terakhir menuai hasil signifikan. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai langkah tersebut berhasil mengubah posisi Indonesia dari sekadar pengekspor bijih mentah menjadi pemain utama dalam industri nikel olahan global.

Berdasarkan data yang dihimpun, Indonesia kini menguasai sekitar 41 persen pangsa pasar industri nikel olahan dunia. Capaian itu menempatkan RI di posisi teratas, jauh meninggalkan negara produsen nikel tradisional seperti Filipina, Rusia, dan Australia yang sebelumnya mendominasi rantai pasok global.

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi yang dibentuk pemerintah untuk mempercepat pembangunan smelter dan mendorong investasi di sektor pengolahan. Kebijakan larangan ekspor bijih nikel mentah yang mulai diberlakukan bertahap sejak 2020 menjadi tonggak penting pergeseran tersebut.

Kronologi Perjalanan Hilirisasi Nikel Indonesia

  1. 2009–2014: Pemerintah menerbitkan UU Minerba yang mewajibkan pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri. Kebijakan ini menjadi dasar hukum pertama hilirisasi.
  2. Januari 2020: Larangan ekspor bijih nikel kadar rendah mulai diberlakukan. Investasi smelter tumbuh pesat, terutama di kawasan Morowali dan Weda Bay.
  3. 2021–2023: Kapasitas produksi nikel olahan nasional melonjak. Indonesia mulai mengekspor feronikel, nikel pig iron (NPI), dan mixed hydroxide precipitate (MHP) dalam volume besar.
  4. 2024–2025: Satgas Hilirisasi memperluas mandat ke sektor lain. Pemerintah mendorong hilirisasi nikel hingga ke produk baterai kendaraan listrik.
  5. 2026: Pangsa pasar nikel olahan Indonesia menyentuh 41 persen dari total pasokan dunia, sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Dampak Ekonomi dan Tantangan yang Mengintai

Yusuf Rendy Manilet menyebut konsistensi kebijakan sebagai kunci utama keberhasilan tersebut. Menurutnya, tanpa arah politik yang stabil, investor tidak akan menanamkan modal jangka panjang di sektor pengolahan mineral.

"Kebijakan yang konsisten dijalankan pemerintah berhasil mengubah posisi Indonesia dalam industri nikel global. Kita bukan lagi penjual bahan mentah, tetapi sudah menjadi pemain utama di rantai nilai yang lebih tinggi," ujar Yusuf dalam keterangannya di Jakarta.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi. Isu lingkungan, dominasi investasi asing tertentu, serta ketergantungan pada teknologi dan pasar ekspor menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Organisasi perdagangan dunia juga menyoroti kebijakan larangan ekspor yang dianggap berpotensi memicu sengketa dagang.

  • 41 persen: Pangsa pasar nikel olahan dunia yang dikuasai Indonesia.
  • 2020: Tahun mulai berlakunya larangan ekspor bijih nikel kadar rendah.
  • Morowali dan Weda Bay: Dua kawasan utama pusat smelter dan industri hilirisasi nikel.
  • Baterai EV: Produk hilir bernilai tambah tinggi yang menjadi target berikutnya.

Pemerintah melalui Satgas Hilirisasi menargetkan perluasan program serupa ke komoditas lain seperti bauksit, tembaga, dan timah. Jika berhasil, pola yang sama diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global dan meningkatkan penerimaan negara dari sektor pengolahan.

Namun para ekonom mengingatkan agar hilirisasi tidak berhenti pada smelter. Pengembangan industri manufaktur turunan, riset teknologi, dan penguatan sumber daya manusia menjadi prasyarat agar nilai tambah benar-benar dinikmati secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User