Israel bersiap menghadapi salah satu pemilihan umum paling menentukan dalam satu dekade terakhir. Pada 27 Oktober mendatang, sekitar 6,8 juta pemilih terdaftar akan menentukan arah baru pemerintahan negara itu. Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa blok oposisi berhasil unggul tipis atas koalisi yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Keunggulan ini penting karena mengindikasikan bahwa preferensi politik warga Israel mulai bergeser, dan bagi masyarakat luas, perubahan komposisi parlemen akan berdampak langsung pada kebijakan ekonomi, keamanan, serta hubungan internasional.
Survei yang dirilis sejumlah lembaga penelitian politik menunjukkan selisih kursi yang sangat ketat antara kedua blok. Ibarat seperti pertandingan sepak bola yang memasuki menit terakhir dengan skor imbang, setiap satu kursi di Knesset—parlemen Israel yang beranggotakan 120 orang—menjadi penentu apakah Netanyahu mampu mempertahankan kekuasaannya atau harus menyerahkan tongkat estafet kepada kubu oposisi.
Peta Kursi dan Matematika Koalisi
Dalam sistem pemilu Israel, pemilih tidak memilih perdana menteri secara langsung. Mereka memilih partai, dan partai-partai kemudian bernegosiasi untuk membentuk koalisi mayoritas. Sistem proporsional ini membuat ambang batas elektoral sebesar 3,25 persen menjadi sangat krusial. Partai yang gagal melewatinya kehilangan seluruh suaranya.
Dari data survei terkini, blok oposisi yang terdiri dari Partai Yesh Atid, Partai Buruh, dan sejumlah partai kecil diproyeksikan meraih 61 hingga 63 kursi. Sementara blok pendukung Netanyahu, yang mencakup Partai Likud dan partai-partai kanan religius, diperkirakan mengumpulkan 57 hingga 59 kursi. Angka ini belum final karena margin kesalahan survei biasanya berkisar 2 hingga 3 persen.
"Selisih tipis semacam ini membuat setiap aliansi dan deklarasi koalisi menjadi taruhan mahal. Partai-partai tengah akan menjadi penentu arah pemerintahan," ujar seorang analis politik dari Universitas Tel Aviv.
Yang menarik, partai-partai Arab dan partai sayap kanan ekstrem juga berpotensi menjadi kingmaker. Dalam beberapa survei, partai Arab Ra'am dan Hadash-Ta'al diprediksi memperoleh total 10 hingga 12 kursi. Jika mereka bergabung dengan blok oposisi, keunggulan bisa melebar. Namun, jika partai-partai kanan religios justru melampaui ekspektasi, Netanyahu masih punya peluang membentuk pemerintahan minoritas.
Faktor yang Menggerus Dukungan
Ada beberapa alasan mengapa koalisi petahana kehilangan sedikit dukungan. Pertama, isu ekonomi domestik. Biaya hidup di Israel, khususnya harga perumahan dan pangan, terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Tingkat inflasi tahunan sempat menyentuh angka 4,5 persen, jauh di atas target bank sentral. Bagi keluarga muda di Tel Aviv dan Yerusalem, harga apartemen rata-rata kini menembus 2,5 juta shekel atau sekitar Rp10,8 miliar.
Kedua, ketegangan keamanan di perbatasan Gaza dan Tepi Barat masih menjadi luka terbuka. Meskipun pemerintah mengklaim telah menekan kelompok militan, serangan sporadis dan roket masih terjadi. Sebagian pemilih menganggap pendekatan militeristik tidak menyelesaikan akar masalah.
Ketiga, faktor internal partai. Beberapa tokoh senior Likud dilaporkan tidak puas dengan gaya kepemimpinan Netanyahu yang dianggap terlalu sentralistis. Ini menciptakan retakan yang dimanfaatkan oposisi untuk menarik suara tengah.
Dampak bagi Indonesia dan Dunia
Bagi Indonesia, perubahan pemerintahan Israel bisa memengaruhi dinamika diplomasi Timur Tengah. Selama ini, Indonesia konsisten mendukung solusi dua negara dan tidak mengakui kedaulatan Israel atas Palestina. Namun, arah kebijakan ekonomi Israel tetap penting bagi stabilitas harga energi dan kerja sama teknologi di kawasan.
Jika oposisi menang, ada peluang terbuka untuk pembicaraan damai yang lebih inklusif. Sebaliknya, jika Netanyahu kembali berkuasa, kebijakan perluasan permukiman dan pendekatan keras terhadap Iran kemungkinan berlanjut. Dunia, termasuk Indonesia, akan menunggu hasil resmi pada akhir Oktober. Apa pun hasilnya, pemilu ini bukan sekadar pertarungan elit, melainkan cerminan kegelisahan rakyat Israel akan masa depan yang lebih adil dan aman.
Comments (0)