Bisnis

Pakar Kebencanaan Tegaskan Erupsi Gunung Api Bukan Hasil Rekayasa Teknologi

Beredarnya spekulasi dan teori konspirasi di ruang digital mengenai potensi rekayasa manusia di balik aktivitas vulkanik akhirnya mendapat tanggapan tegas

Pakar Kebencanaan Tegaskan Erupsi Gunung Api Bukan Hasil Rekayasa Teknologi

Beredarnya spekulasi dan teori konspirasi di ruang digital mengenai potensi rekayasa manusia di balik aktivitas vulkanik akhirnya mendapat tanggapan tegas dari kalangan akademisi dan praktisi geofisika. Pakar kebencanaan nasional, Daryono, menegaskan bahwa seluruh rentetan erupsi gunung api yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan proses geologis murni dan alamiah, bukan akibat campur tangan teknologi buatan manusia.

Klarifikasi ini dipandang mendesak menyusul maraknya narasi di media sosial yang mengaitkan bencana alam dengan pengoperasian senjata pengubah cuaca hingga teknologi manipulasi tektonik. Menurut para ahli, klaim semacam itu tidak memiliki landasan ilmiah dan justru memicu disinformasi berbahaya di tengah masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana.

Dinamika Tektonik dan Mekanisme Vulkanisme

Indonesia terletak di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia: Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Subduksi lempeng-lempeng ini menciptakan pelelehan batuan di kerak bumi yang membentuk kantong-kantong magma di kedalaman puluhan kilometer.

"Aktivitas vulkanik merupakan manifestasi pelepasan energi endogen dari perut bumi yang terakumulasi selama ribuan tahun. Hingga saat ini, tidak ada satu pun teknologi di dunia yang mampu menembus, mengendalikan, apalagi merekayasa tekanan fluida dan magma pada kedalaman ekstrem tersebut," tegas Daryono dalam keterangannya.

Besaran energi yang dilepaskan dalam sebuah letusan gunung berapi berskala sedang hingga besar setara dengan ribuan megaton peledak, jauh melampaui kemampuan akumulasi energi buatan manusia mana pun di muka bumi.

Faktor Pemicu Erupsi yang Teruji Secara Ilmiah

Secara vulkanologi, pergerakan magma menuju permukaan dikendalikan oleh serangkaian hukum termodinamika dan geologi fisik yang kompleks. Beberapa faktor alami utama yang memicu erupsi meliputi:

  • Akumulasi Tekanan Gas: Gas terlarut seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida yang terjebak di dalam magma meningkatkan tekanan internal seiring penurunan densitas magma.
  • Injeksi Magma Baru: Masuknya pasokan magma baru dari mantel bumi yang lebih dalam ke dalam dapur magma dangkal memicu ketidakstabilan termal dan tekanan.
  • Dinamika Tektonik Lokal: Gempa bumi di sekitar patahan aktif dapat memicu retakan batuan penutup kubah lava, membuka jalan bagi magma untuk naik ke kawah.
  • Gravitasi dan Erosi Kubah: Runtuhnya kubah lava akibat ketidakstabilan struktural atau curah hujan ekstrem di puncak gunung.

Pentingnya Literasi Kebencanaan Publik

Penyebaran narasi konspirasi seputar bencana alam dinilai dapat mereduksi kewaspadaan kolektif masyarakat terhadap ancaman mitigasi yang nyata. Masyarakat diimbau untuk selalu merujuk pada informasi resmi yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Pemahaman sains kebencanaan yang matang menjadi modal penting bagi warga di kawasan rawan bencana untuk merespons sistem peringatan dini secara cepat dan rasional, tanpa terdistraksi oleh mitos maupun klaim sains semu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lidia-susanto

Reporter Olahraga Wanita. Fokus pada atlet perempuan dan kesetaraan gender dalam olahraga.

Comments (0)

User