Teknologi

Pakar Etologi Bagikan Panduan Membaca Respon Anjing Saat Dielus

Mengelus anjing peliharaan kerap dipandang sebagai bentuk kasih sayang yang wajar dan menyenangkan bagi kedua belah pihak. Namun, tidak semua anjing meneri

Pakar Etologi Bagikan Panduan Membaca Respon Anjing Saat Dielus

Mengelus anjing peliharaan kerap dipandang sebagai bentuk kasih sayang yang wajar dan menyenangkan bagi kedua belah pihak. Namun, tidak semua anjing menerima kontak fisik dengan cara yang sama atau merasa nyaman saat disentuh di bagian tubuh tertentu. Fenomena ini diangkat oleh pakar etologi klinis dan edukator anjing, Juan Liquindoli, yang membagikan panduan ilmiah mengenai cara mengenali bahasa tubuh anjing saat berinteraksi dengan manusia.

Melalui unggahan edukatif yang viral di media sosial, pendiri portal Filosofía Animal tersebut menjelaskan bahwa perilaku anjing memiliki korelasi langsung dengan kondisi fisiologis dan sistem saraf mereka. Pemilik hewan diimbau untuk lebih peka membaca sinyal mikro yang ditunjukkan peliharaan guna menghindari stres atau rasa terancam pada hewan.

"Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perilaku memiliki kaitan fisiologis yang nyata. Tubuh anjing berbicara. Perubahan yang terjadi pada sistem saraf mereka memberikan tanda-tanda pada perilaku, dan belajar membacanya membantu kita memahami kapan mereka rileks dan kapan mulai merasa tidak nyaman," tegas Juan Liquindoli.

Mengamati Bahasa Tubuh Berdasarkan Respons Fisiologis

Menurut pemaparan Liquindoli, sebagian besar anjing memang menyukai interaksi fisik, tetapi tingkat toleransi setiap individu hewan sangat bervariasi. Memaksakan sentuhan pada area sensitif atau saat anjing belum siap dapat memicu kecemasan yang berujung pada perubahan perilaku defensif.

Liquindoli menekankan pentingnya memahami kronologi perubahan respon anjing melalui beberapa tahapan observasi:

  1. Fase Awal (Kontak Visual dan Postur): Anjing yang merasa nyaman akan mendekat secara sukarela, mengendurkan otot tubuh, serta menunjukkan tatapan yang tenang. Sebaliknya, penolakan halus diawali dengan tatapan mata yang dialihkan atau kepala yang berpaling ke arah lain.
  2. Fase Ketegangan Tubuh (Immobilitas): Jika sinyal awal diabaikan, anjing dapat mengalami fenomena freezing atau tubuh mendadak kaku tanpa ekspresi. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai sikap patuh, padahal merupakan tanda stres akut.
  3. Fase Penolakan Aktif: Anjing dapat menunjukkan gerakan menjilat bibir berulang kali, menguap tanpa sebab lelah, hingga perlahan menjauh dari jangkauan tangan manusia.

Langkah Tepat Membangun Interaksi yang Aman

Untuk memastikan interaksi tetap etis dan aman, pemilik disarankan untuk menerapkan uji persetujuan (*consent test*) sebelum membelai anjing secara berlebihan. Langkah-langkah preventif ini krusial diterapkan:

  • Terapkan Aturan Tiga Detik: Berikan elusan singkat selama 3 detik, lalu hentikan kontak fisik dan lihat apakah anjing meminta tambahan sentuhan dengan mendekatkan tubuhnya.
  • Hindari Area Sensitif: Jangan langsung memegang bagian atas kepala, moncong, cakar, atau ekor tanpa izin eksplisit dari anjing.
  • Hormati Batasan Ruang: Berikan ruang gerak bagi anjing untuk menjauh tanpa adanya paksaan untuk terus berinteraksi.

Melalui pemahaman etologi yang tepat, hubungan antara pemilik dan anjing dapat terjalin secara harmonis berdasarkan rasa saling percaya dan penghormatan terhadap batas kenyamanan masing-masing hewan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User