Bisnis

NorthPoint Tawarkan US$10.000 Tiap Rumah Demi Data Center Lolos

HAZLE TOWNSHIP, Pennsylvania — Pengembang properti asal Kansas City, NorthPoint Development, menggulirkan tawaran berani kepada warga Hazle Township: setia

NorthPoint Tawarkan US$10.000 Tiap Rumah Demi Data Center Lolos

HAZLE TOWNSHIP, Pennsylvania — Pengembang properti asal Kansas City, NorthPoint Development, menggulirkan tawaran berani kepada warga Hazle Township: setiap rumah tangga berhak menerima uang tunai US$10.000 atau sekitar Rp180 juta jika proyek data center raksasa yang mereka usung diizinkan berdiri. Tawaran tersebut tertuang dalam surat yang mulai tiba di kotak surat warga dan langsung memicu perdebatan sengit di masyarakat.

NorthPoint menargetkan sekitar 4.500 rumah tangga di kawasan tersebut, sehingga total dana yang dijanjikan mencapai US$45 juta atau setara Rp810 miliar. Uang itu digambarkan sebagai "dana hibah langsung bagi penduduk" dan dapat digunakan untuk keperluan apa pun. Namun pembayarannya tidak serta-merta diberikan: dana baru cair ketika sertifikat huni untuk gedung data center pertama terbit.

Paket Manfaat US$165 Juta

Tawaran tunai tersebut merupakan bagian dari paket manfaat komunitas senilai US$165 juta yang dijanjikan NorthPoint untuk proyek yang diberi nama Project Hazelnut. Paket itu terdiri dari beberapa komponen utama:

  • US$45 juta dana hibah langsung bagi rumah tangga berhak, masing-masing US$10.000;
  • US$15 juta dana pendukung komunitas untuk pendidikan, pelatihan kerja, seni, dan olahraga;
  • US$105 juta komitmen jangka panjang, yakni US$7 juta per tahun selama 15 tahun untuk mendanai pembentukan kepolisian lokal dan menurunkan biaya pengangkutan sampah warga.

Selain itu, proyek yang membentang di lahan seluas sekitar 1.280 acre itu dijanjikan menciptakan 1.300 pekerjaan konstruksi dan 950 pekerjaan tetap dengan gaji US$50.000 hingga US$158.000 per tahun. NorthPoint juga menegaskan tidak akan memakai air minum lokal untuk mendinginkan server serta menjaga hampir 1.100 acre sebagai ruang terbuka.

Warga Menyebutnya Suap

Di balik angka yang menggiurkan, sebagian warga justru bereaksi dingin. Surat yang ditandatangani CEO NorthPoint, Nathaniel Hagedorn, itu menyebut proyek telah diwarnai "misinformasi dan ketakutan" soal air, lingkungan, jarak bangunan, cahaya, dan pasokan listrik. Namun warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan lokasi proyek menolak anggapan itu.

"Ini kedengarannya seperti suap kepada saya. Kalau orang harus menyuap orang lain agar sesuatu disetujui, memang begitu caranya," ujar Ed Negra, pensiunan manajer material bangunan yang tinggal di komunitas Eagle Rock Resort.

"Mereka mencoba menyuap orang-orang. Surat ini sangat tidak tulus. Lagipula, ini bukan kontrak," tegas Ed Parks, pensiunan wakil presiden perusahaan perangkat lunak.

Istri Parks, Annmarie Palumbo-Parks, menambahkan bahwa kawasan berhutan indah tempat mereka tinggal merupakan hasil kerja keras seumur hidup. "Bagaimana Anda bisa memasang harga bagi kesejahteraan Anda sendiri?" ujarnya.

Proyek Ditolak Berkali-kali

Kontroversi ini bermula ketika para pengawas Hazle Township menolak secara bulat pengajuan lahan NorthPoint pada November 2025 setelah menerima banyak keluhan warga. NorthPoint lalu mengajukan banding, namun seorang hakim Kabupaten Luzerne menolaknya bulan lalu. Meski demikian, pemerintah negara bagian justru memasukkan proyek ini ke dalam Program Fast Track Perizinan milik Gubernur Josh Shapiro yang mempercepat penerbitan izin proyek strategis.

Perdebatan soal pembangunan data center sendiri tengah memanas di Pennsylvania. Sejumlah legislator dari kedua partai menggelar dengar pendapat terkait dampak data center terhadap lingkungan dan kualitas hidup warga. Hazle Township, yang berpenduduk sedikit lebih dari 10.000 jiwa, kini menjadi uji tombak apakah uang tunai dapat melunakkan penolakan warga terhadap industri teknologi yang terus berkembang.