Teknologi

Mahasiswa Protes Keras Hari Pemakzulan Hakim Argentina

Gelombang demonstrasi kembali mengguncang Argentina. Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok pendukung mantan Presiden Cristina Kirchner menerobos auditori

Mahasiswa Protes Keras Hari Pemakzulan Hakim Argentina

Gelombang demonstrasi kembali mengguncang Argentina. Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok pendukung mantan Presiden Cristina Kirchner menerobos auditorium Fakultas Hukum Universitas Buenos Aires dan menggelar aksi protes terhadap Mahkamah Agung serta jaksa penuntut dalam perkara korupsi Vialidad.

Insiden bermula saat berlangsungnya upacara penghargaan Quorum Awards di kampus tersebut. Massa yang diduga terafiliasi dengan organisasi pemuda La Cámpora tiba-tiba menyerbu ruangan dengan meneriakkan yel-yel, melemparkan kertas, dan membentangkan spanduk besar bertuliskan tuntutan pembebasan Cristina Kirchner.

"Ini bukan sekadar aksi mahasiswa biasa. Ini adalah eskalasi tekanan politik terorganisir terhadap lembaga peradilan," ujar seorang pengamat politik setempat.

Kronologi Aksi Penerobosan Auditorium

Berdasarkan rekaman video yang beredar luas, kejadian tersebut berlangsung cepat dan mengejutkan para hadirin. Berikut urutan peristiwanya:

  1. Upacara penghargaan Quorum Awards sedang berlangsung di auditorium utama Fakultas Hukum UBA.
  2. Sejumlah pemuda tiba-tiba masuk sambil menyanyikan yel-yel "La Patria no se vende" atau "Tanah Air Tidak Dijual".
  3. Hakim Julián Ercolini dan jaksa Diego Luciani—dua figur kunci di balik vonis Kirchner—berada di lokasi dan menjadi sasaran utama.
  4. Massa melemparkan selebaran bertuliskan "Cristina Libre" dari balkon atas.
  5. Spanduk bertuliskan "La tierra no se vende, la Corte sí" dibentangkan, menyindir putusan MA soal undang-undang pertanahan.

Video aksi tersebut disebarkan melalui akun Twitter bernama "Cristina Libre", yang diketahui memiliki keterkaitan langsung dengan La Cámpora—sayap pemuda politik yang loyal kepada Kirchner. Akun itu secara konsisten menuntut pembebasan mantan presiden tersebut.

Latar Belakang Vonis dan Konteks Politik

Cristina Kirchner sebelumnya dijatuhi hukuman 5 tahun penjara plus larangan permanen menduduki jabatan publik dalam kasus korupsi Vialidad. Putusan itu dianggap sebagai salah satu vonis paling kontroversial dalam sejarah peradilan Argentina modern.

Aksi di Fakultas Hukum bukan satu-satunya demonstrasi hari itu. Sejumlah kelompok dari Partai Justicialista, organisasi sayap kiri, serikat buruh, dan gerakan piquetero juga menggelar unjuk rasa serentak menentang Mahkamah Agung. Berikut perbandingan dua aksi utama:

AspekAksi MahasiswaAksi Massa Jalanan
LokasiUBA Fakultas HukumKantor MA dan pusat kota
Isu UtamaKebebasan Kirchner, Vonis VialidadPutusan UU Pertanahan, Reformasi MA
PesertaLa Cámpora, MahasiswaPJ, Serikat Buruh, Piqueteros
MetodePenerobosan ruangan, Selebaran, SpandukPawai, Orasi, Pemblokiran jalan

Respons dan Implikasi

Belum ada pernyataan resmi dari pihak Fakultas Hukum UBA maupun aparat kepolisian terkait insiden ini. Namun, sejumlah akademisi menyayangkan masuknya kepentingan politik ke ruang akademik yang seharusnya netral.

"Fakultas hukum seharusnya menjadi tempat diskusi rasional, bukan panggung kekerasan politik. Ini preseden buruk bagi demokrasi," kata seorang dosen yang enggan disebut namanya.

Pemerintah Argentina belum memberikan tanggapan resmi. Sementara itu, tensi politik diperkirakan akan terus memanas menjelang agenda sidang banding Kirchner. Pendukung mantan presiden berjanji akan menggelar aksi lanjutan di berbagai kota jika tuntutan mereka tidak diindahkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User