NEW YORK — Liga golf profesional yang didanai pemerintah Arab Saudi, LIV Golf, secara resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 (Chapter 11 bankruptcy) ke pengadilan pada Selasa waktu setempat. Langkah mengejutkan ini diambil setelah liga tersebut gagal membangun model bisnis yang berkelanjutan, meski telah menghabiskan miliaran dolar untuk mengacaukan tatanan golf global dan membajak bintang-bintang PGA Tour.
Pengajuan pailit ini menandai akhir dari era ekspansi agresif yang memicu friksi sengit di dunia olahraga internasional. LIV Golf sebelumnya menawarkan bayaran selangit yang tidak realistis guna memikat pemain-pemain elite dunia, namun pada akhirnya kesulitan mencatatkan keuntungan akibat minimnya pemasukan dari hak siar dan rendahnya rating televisi.
Kronologi Runtuhnya Ambisi Finansial LIV Golf
Kegagalan finansial LIV Golf terjadi melalui serangkaian dinamika ekonomi dan geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir:
- Periode 2022–2024: LIV Golf meluncurkan turnamen dengan format baru dan menggelontorkan dana fantastis hingga berhasil membajak sejumlah nama besar seperti Jon Rahm dan Bryson DeChambeau dari PGA Tour.
- April 2026: Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi secara mengejutkan mengumumkan rencana penarikan seluruh dukungan finansialnya setelah musim kompetisi 2026 berakhir, menyusul gejolak geopolitik Timur Tengah dan lonjakan harga energi.
- Awal Mei 2026: Manajemen LIV Golf berupaya keras menggalang investor baru dari sektor swasta global, namun negosiasi terhambat oleh laporan keuangan yang merugi serta angka penonton televisi yang terus merosot.
- Selasa, Mei 2026: LIV Golf resmi mendaftarkan kebangkrutan Chapter 11 di pengadilan niaga dan menyetujui rencana restrukturisasi bersama divisi dari BC Partners.
"Investasi substansial jangka panjang yang dibutuhkan oleh LIV Golf sudah tidak lagi sejalan dengan fase strategi investasi PIF saat ini," demikian pernyataan resmi Public Investment Fund (PIF) saat mengumumkan pemutusan dana.
Menurut laporan Money in Sport, PIF tercatat telah mengucurkan dana lebih dari 5 miliar dolar AS (sekitar Rp80 triliun) ke dalam operasional LIV Golf sebelum memutuskan untuk angkat kaki. Evaluasi ulang portofolio Riyadh dilakukan setelah pergeseran geopolitik global memicu perlunya efisiensi pada pos-pos investasi luar negeri non-strategis.
Rencana Restrukturisasi dan Kepemilikan Pemain
Melalui pengajuan perlindungan kebangkrutan ini, LIV Golf mengumumkan telah mengamankan perjanjian restrukturisasi (restructuring support agreement) bersama unit dari konsorsium investasi BC Partners. Skema ini dirancang agar entitas kompetisi baru nantinya dapat beroperasi secara lebih ramping dan mayoritas sahamnya beralih kepemilikan kepada para pemain.
Kendati demikian, proses pailit ini berpotensi memicu pemutusan atau peninjauan ulang kontrak-kontrak raksasa yang mengikat atlet bintang. Kesepakatan bernilai ratusan juta dolar seperti yang diterima pegolf Jon Rahm kini berada di ujung tanduk dan terancam batal demi hukum.
Comments (0)