Teknologi

Jejak Fisik AI Tuai Kritik, Brasil Tarik Duta Besar dari Argentina

Di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan, sebuah ironi diam-diam mengkristal: teknologi yang tampak tanpa wujud justru bertumpu pada fondasi pali

Jejak Fisik AI Tuai Kritik, Brasil Tarik Duta Besar dari Argentina

Di tengah gegap gempita revolusi kecerdasan buatan, sebuah ironi diam-diam mengkristal: teknologi yang tampak tanpa wujud justru bertumpu pada fondasi paling material dari peradaban—tanah, air, dan listrik. Pusat data raksasa yang menjadi otot komputasi model bahasa besar tidak melayang di awan; mereka mencengkeram bentang alam nyata, mengubah sungai, jaringan listrik, dan bahkan iklim mikro lokal. Sementara itu, di belahan bumi selatan, kedaulatan politik sebuah negara kembali diuji oleh kata-kata. Brasil, raksasa Amerika Latin, menarik duta besarnya dari Buenos Aires setelah Presiden Argentina Javier Milei melontarkan serangan verbal yang dinilai ofensif—tidak hanya kepada Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, tetapi juga merembet ke Meksiko dan Partai Demokrat Amerika Serikat.

AI Bukan Awan, Melainkan Tambang dan Tanah

Joseph Bohbot, profesor geografi di Sorbonne Université, melontarkan kritik tajam melalui tulisannya di harian Le Monde. Ia memperingatkan bahwa euforia AI telah menutupi realitas eksploitatif infrastruktur digital yang kian tak terkendali.

“L’IA repose sur une géographie concrète, mettant des territoires au service du calcul, selon une logique de comptoirs,” tulis Bohbot. Atau, dalam terjemahan bebasnya: “AI bertumpu pada geografi konkret, menempatkan wilayah-wilayah untuk melayani komputasi, mengikuti logika pos perdagangan.”

Yang dimaksudnya adalah pola yang mengingatkan pada abad kolonial: perusahaan teknologi global mendirikan comptoirs modern—pusat data—di negara-negara dengan sumber daya murah dan regulasi longgar, lalu menguras listrik setara konsumsi kota kecil tanpa memberikan kendali kepada pemerintah setempat. Lebih dari 70% pusat data dunia terkonsentrasi di segelintir kawasan, terutama di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur, namun ekspansi agresif kini merambah Amerika Latin, Afrika, dan Asia Tenggara, tempat kebutuhan energi mereka sering berbenturan dengan pasokan listrik warga.

Di Uruguay, pembangunan pusat data Google memicu protes karena menyedot air dari akuifer yang sama yang digunakan petani. Di Chile, raksasa tambang digital mengubah Gurun Atacama menjadi medan pertarungan antara konservasi dan komputasi. Jejak karbon sektor ini pun diperkirakan melampaui emisi penerbangan global pada akhir dekade ini. AI, yang digadang-gadang sebagai solusi krisis iklim, justru menjadi kontributor signifikan pemanasan global melalui infrastrukturnya yang rakus energi.

Kata-Kata yang Mengguncang Poros Selatan

Di tengah peta konstelasi data inilah hubungan Brasil-Argentina—dua ekonomi terbesar Amerika Selatan—memanas. Ketegangan terbaru meletus ketika Presiden Milei, dalam berbagai forum, kembali melontarkan komentar yang dianggap Brasilia sebagai “penghinaan langsung” terhadap Presiden Lula. Pemerintah Brasil bukan hanya merespons dengan nota protes, tetapi langsung menarik duta besarnya dari Buenos Aires untuk konsultasi, sebuah sinyal diplomatik paling tajam dalam hubungan bilateral sejak dekade lalu. Secara paralel, duta besar Argentina di Brasilia turut dipanggil untuk memberikan penjelasan.

Serangan Milei tidak berhenti pada rival ideologisnya di kiri. Ia juga menyasar Meksiko—sekutu penting Brasil di kawasan—dan bahkan Partai Demokrat Amerika Serikat. Eskalasi retorik ini terjadi di saat yang genting: rantai pasok litium, mineral kritis untuk baterai pusat data dan kendaraan listrik, sebagian besar berada di segitiga Argentina-Bolivia-Chile. Gangguan diplomatik di kawasan dapat memperlambat negosiasi investasi teknologi yang sedang dijajaki oleh perusahaan Cina dan Amerika.

Analis hubungan internasional menilai langkah Brasil bukan sekadar reaksi emosional, melainkan pesan strategis bahwa stabilitas kawasan tidak bisa dikorbankan demi gaya populis konfrontatif. “Saling ketergantungan energi dan mineral menjadikan konflik ini kontraproduktif bagi kedua belah pihak,” ujar seorang diplomat senior yang enggan disebut namanya.

Persilangan Dua Arus: Kedaulatan di Era Digital dan Diplomasi Klasik

Sekilas, dua peristiwa ini tampak berjalan di rel yang berbeda—satu tentang filosofi teknologi, yang lain tentang geger politik. Namun pada hakikatnya, keduanya bertemu di persimpangan kedaulatan abad ke-21. Infrastruktur AI yang diam-diam mencengkeram tanah-tanah di belahan bumi selatan membutuhkan stabilitas politik untuk beroperasi. Sebaliknya, negara-negara seperti Brasil dan Argentina, yang kerap menjadi ‘tuan rumah’ bagi pusat data atau pertambangan mineral digital, mulai mempertanyakan kembali batas-batas kendali mereka.

Ketika Milei menyerang Lula, ia tidak hanya merusak hubungan personal, tetapi berpotensi mengguncang kerangka kerja sama regional yang sedang berusaha menarik investasi bernilai miliaran dolar di sektor data center dan energi terbarukan. Sebab, pusat data berkapasitas 100 megawatt—setara kebutuhan 80.000 rumah tangga—tidak akan dibangun di kawasan yang diplomatiknya mencekam dan regulasinya tidak pasti.

Perspektif Bohbot menjadi lensa yang jernih: sama seperti pusat data yang mengekstraksi sumber daya tanpa memberikan kedaulatan digital, provokasi lintas batas ala Milei menguras modal politik yang seharusnya digunakan untuk memperkuat posisi tawar kawasan di panggung ekonomi digital global. Singkatnya, baik algoritme maupun diplomasi sama-sama memerlukan tanah yang kokoh—dan saat salah satunya retak, yang lain ikut terhuyung.

Gelombang AI terus bergulir, dan begitu pula panasnya politik Amerika Latin. Menyatukan kedua arus itu mungkin bukan pilihan, melainkan syarat mutlak bagi negara-negara Selatan untuk tidak sekadar menjadi comptoir digital abad ini.

[SOCIAL_TWEET]: Pusat data AI bukanlah awan tak kasatmata—ia mencengkeram tanah, air, dan listrik. Sementara itu, Brasil tarik duta besar dari Argentina setelah serangan verbal Milei. Dua gelombang, satu benang merah: kedaulatan. #AI #Brasil #Argentina #GeopolitikDigital[SOCIAL_TG]: 🔥 Peta panas ganda: AI tak lagi ‘virtual’—profesor Sorbonne sebut pusat data adalah comptoir kolonial. Dan di kancah politik, Brasil tarik duta besar dari Argentina karena Milei serang Lula, Meksiko, & Demokrat AS. Bagaimana keduanya terhubung? Baca selengkapnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User