Teknologi

JAKARTA — Pertamina Pamerkan Strategi Transisi Energi Kepada Delegasi Swedia

Di tengah dorongan global untuk mempercepat transisi menuju energi bersih, PT Pertamina (Persero) terus memperkuat langkah strategisnya melalui jalinan kem

JAKARTA — Pertamina Pamerkan Strategi Transisi Energi Kepada Delegasi Swedia

Di tengah dorongan global untuk mempercepat transisi menuju energi bersih, PT Pertamina (Persero) terus memperkuat langkah strategisnya melalui jalinan kemitraan internasional. Langkah konkret ini tecermin saat jajaran manajemen Pertamina menerima kunjungan kehormatan dari delegasi bisnis dan pemerintah Swedia di Jakarta. Pertemuan strategis tersebut menjadi panggung penting bagi BUMN energi nasional ini untuk memaparkan visi besar transformasi perusahaan yang berfokus pada ketahanan energi, digitalisasi, serta aspek keberlanjutan lingkungan.

Kunjungan delegasi negara Nordik yang dikenal sebagai salah satu pelopor teknologi hijau dunia tersebut disambut hangat oleh manajemen Pertamina. Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang diplomasi korporasi, tetapi juga ruang penjajakan kolaborasi teknologi yang mampu mengakselerasi peta jalan pencapaian Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.

Menjaga Keseimbangan Lewat Dual Growth Strategy

Dalam pemaparannya, Pertamina menegaskan komitmennya untuk menjaga trilema energi—yang mencakup ketahanan energi (energy security), keterjangkauan (affordability), dan keberlanjutan (sustainability). Guna mengakomodasi ketiga elemen vital tersebut secara seimbang, perusahaan menerapkan pendekatan yang disebut Dual Growth Strategy (Strategi Pertumbuhan Ganda).

Melalui strategi ganda ini, Pertamina tidak serta-merta meninggalkan bisnis utamanya, melainkan membaginya ke dalam dua fokus utama yang saling mendukung:

  • Fokus Pertama: Memperkuat dan mengoptimalkan bisnis inti berbasis fosil (minyak dan gas bumi) guna menjamin pasokan energi nasional tetap aman, terjangkau, serta efisien melalui modernisasi kilang dan efisiensi operasional.
  • Fokus Kedua: Mengembangkan portofolio bisnis baru berbasis energi bersih dan rendah karbon, seperti panas bumi (geothermal), energi surya, biofuel, hidrogen hijau, serta teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS).

Pertamina menilai bahwa transisi energi di negara berkembang seperti Indonesia memerlukan pendekatan yang pragmatis dan terukur. Langkah ini memastikan bahwa upaya penurunan emisi tidak mengorbankan stabilitas ekonomi nasional maupun akses masyarakat terhadap energi.

Berikut adalah ringkasan pendekatan Dual Growth Strategy yang diterapkan Pertamina dalam mengakselerasi transformasi energi:

Pilar Strategi Fokus Utama Operasional Target & Dampak Strategis
Pilar 1: Bisnis Inti (Core Energy) Peningkatan produksi migas, efisiensi kilang, digitalisasi rantai pasok Menjamin ketahanan dan keterjangkauan pasokan energi nasional
Pilar 2: Energi Hijau (Low Carbon) Pengembangan Geothermal, Biofuel, CCS/CCUS, dan EBT Mencapai target dekarbonisasi dan Net Zero Emission 2060

Akselerasi Digitalisasi di Seluruh Seluk-Beluk Bisnis

Selain transisi energi, topik utama yang menyita perhatian delegasi Swedia adalah keberhasilan Pertamina dalam mengimplementasikan transformasi digital secara masif. Digitalisasi dipandang sebagai penggerak utama (enabler) yang memungkinkan terciptanya efisiensi operasional sekaligus menekan jejak karbon dari kegiatan bisnis dari hulu ke hilir.

Pertamina telah memodernisasi infrastruktur operasionalnya dengan menghadirkan sistem pemantauan terpadu berbasis data real-time. Inovasi ini memungkinkan pengawasan ketat terhadap distribusi bahan bakar minyak (BBM), kinerja kilang, hingga aktivitas eksplorasi migas di lapangan secara terpusat.

"Transformasi digital di tubuh Pertamina bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan transparansi, efisiensi biaya, dan ketepatan pengambilan keputusan dalam mengelola sumber daya energi nasional," ungkap pihak manajemen Pertamina saat memaparkan program unggulannya.

Penerapan teknologi canggih seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan pemrosesan data besar (Big Data) membantu Pertamina memprediksi kebutuhan pemeliharaan kilang (predictive maintenance) serta mencegah potensi kehilangan pasokan operasional secara dini.

Peluang Kolaborasi Strategis Indonesia dan Swedia

Kunjungan delegasi Swedia ini membuka pintu kerja sama yang lebih luas di bidang inovasi teknologi dan investasi hijau. Swedia, yang memiliki reputasi global dalam pengembangan efisiensi energi dan sistem transportasi cerdas, dinilai memiliki kesamaan visi dengan langkah transformasi Pertamina.

Pihak delegasi Swedia memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen Pertamina yang transparan dan terukur dalam mengadopsi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Sinergi antara keahlian teknologi Swedia dan skala operasional Pertamina diharapkan mampu melahirkan solusi konkret bagi tantangan iklim global.

Dengan pemaparan komprehensif mengenai Dual Growth Strategy dan digitalisasi ini, Pertamina makin mempertegas posisinya sebagai pionir transisi energi di Asia Tenggara yang siap berkolaborasi dengan mitra internasional demi mewujudkan masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User