Bisnis

Harga Beras di Pasar Induk Cipinang Melonjak Imbas Kenaikan BBM

Dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai memicu efek domino yang nyata terhadap sektor pangan pokok nasional. Di pusat distribusi

Harga Beras di Pasar Induk Cipinang Melonjak Imbas Kenaikan BBM

Dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai memicu efek domino yang nyata terhadap sektor pangan pokok nasional. Di pusat distribusi pangan terbesar ibu kota, yakni Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, harga berbagai varietas beras tercatat merangkak naik secara signifikan. Lonjakan harga ini tak terelakkan lantaran komponen biaya logistik dan transportasi antarprovinsi mengalami kenaikan langsung menyusul kebijakan tarif BBM baru.

Berdasarkan pantauan aktivitas perdagangan di kawasan tersebut, kenaikan harga beras menyentuh angka Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per kilogram, tergantung pada jenis dan kualitas bulir padi. Kenaikan ini dirasakan merata, baik untuk beras kategori medium yang banyak dikonsumsi masyarakat luas, maupun beras kategori premium.

Tekanan Biaya Logistik dan Rantai Pasok Pangan

Kenaikan harga di tingkat grosir tidak semata-mata dipicu oleh keterbatasan stok di lumbung padi, melainkan akibat lonjakan tajam pada ongkos armada pengiriman. Pasokan beras yang masuk ke Jakarta mayoritas didatangkan dari kawasan lumbung pangan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur melalui jalur darat menggunakan truk ekspedisi.

"Biaya operasional armada truk pengangkut naik drastis sejak tarif solar disesuaikan. Pedagang di pasar induk tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual agar tidak menanggung kerugian distribusi yang membengkak," ungkap salah seorang pedagang beras di Cipinang.

Kondisi ini menegaskan bahwa sektor pangan sangat sensitif terhadap perubahan biaya energi. Berikut beberapa faktor pendorong naiknya harga komoditas beras di pasar induk:

  • Kenaikan Tarif Angkutan Ekspedisi: Ongkos sewa truk pengangkut gabah dan beras giling antarprovinsi naik hingga belasan persen.
  • Biaya Pengeringan dan Penggilingan: Penggunaan mesin penggiling padi berbahan bakar minyak turut meningkatkan biaya produksi di tingkat petani dan penggilingan.
  • Penyesuaian Margin Pedagang: Upaya menjaga kelangsungan arus kas di tengah inflasi umum harga barang pokok lainnya.

Dampak Terhadap Daya Beli dan Pedagang Eceran

Kenaikan di pasar induk secara otomatis memukul pedagang eceran di pasar-pasar tradisional se-Jabodetabek. Para pengecer terpaksa membatasi volume kulakan mereka guna mengantisipasi penurunan daya beli konsumen rumah tangga serta pelaku usaha mikro, seperti warung makan dan pedagang kuliner kecil.

Banyak pedagang mengaku mulai merasakan penurunan omzet harian. Sebagian konsumen memilih beralih ke beras dengan mutu yang lebih rendah demi menghemat pengeluaran bulanan. "Kondisi ini menjadi beban ganda bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang belum sepenuhnya pulih ekonominya," tutur analis pasar pangan.

Guna mencegah lonjakan harga yang semakin tak terkendali menjelang akhir tahun, intervensi pemerintah melalui operasi pasar dan optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) oleh Perum Bulog dinilai sangat krusial. Distribusi langsung beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) diharapkan dapat segera menekan disparitas harga di pasar eceran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User